Monthly Archives: Februari 2010

Proposal :

Proposal adalah rencana yang dituangkan dalam bentuk rancangan kerja. Tujuan pembuatan proposal adalah untuk menginformasikan kepada pihak-pihak yang terlibat dan akan dilibatkan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.Bagian-bagian proposal meliputi:

1. Judul kegiatan

2. Nama penyusun

3. Kata pengantar atau pendahuluan, yang berisi latar belakang diadakannya kegiatan tersebut

4. Tujuan diadakannya kegiatan

5. Bentuk atau jenis kegiatan, tempat dan waktu pelaksanaan/jadwal

6. Rencana program  kerja

7. Susunan panitia kegiatan

8. Anggaran yang dibutuhkan

9. Penutup, berisi harapan untuk

mendapatkan persetujuan ataupun bantuan supaya kegiatan dapat terlaksana sesuai dengan rencana, dan

10. Lampiran-lampiran, misalnya berisi surat edaran, undangan dan lain-lain

Iklan

Mengapa EyD (Ejaan yang disempurnakan) tidak dipatuhi?

Mengapa EyD (Ejaan yang Disempurnakan) tidak dipatuhi?

EyD (Ejaan yang Disempurnakan) telah diresmikan penggunaannya oleh pemerintah pada tanggal 18 Agustus 1972, namun sampai sat ini Ejaan yang Disempurnakan(EyD) ini  masih diabaikan oleh masyarakat, benarkah?  Padahal, pemerintah telah menguatkan kembali ejaan yang Disempurnakan ini, dengan keputusan menteri yaitu, Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  Republik Indonesia, Nomor 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987). Adapun hal-hal yang diputuskan antara lain:

1.Pemakaian huruf

2. Pemakaian huruf kapital dan huruf miring

3. Penulisan kata

4. penulisan unsur serapan

5. pemakaian tanda baca.

Beberapa contoh kesalahan yang sering dijumpai, antara lain:

1. Penulisan tehnik, seharusnya ditulis teknik; jadual, seharusnya ditulis jadwal  dan masih banyak lagi.

2. Penulisan antar negara, seharusnya  ditulis antarnegara; dirumah, seharusnya ditulis di rumah.

3. Penulisan a/n, seharusnya ditulis a.n.; d/a seharusnya ditulis d.a.

 

 

Bagaimana cara belajar yang baik?

Terkadang suatu pelajaran menjadi tidak menarik, sulit dipahami dan membosankan, sehingga siswa tidak semangat atau malas ketika akan memulai belajar. Untuk itu siswa harus mengetahui cara belajar yang baik, yaitu:

1. Mempunyai waktu dan tempat untuk belajar

2. Persiapan belajar

3. Mengetahui tugas-tugas

4. Buku teks

Surat Lamaran Pekerjaan

Surat lamaran pekerjaan digunakan apabila kita akan melamar menjadi karyawan di suatu perusahaan swasta, perusahaan negara, kantor pemerintah atau lembaga lainnya berdasarkan informasi lowongan pekerjaan.

Yang perlu diperhatikan dalam membuat surat lamaran pekerjaan:

1. Alamat surat lamaran posisinya di kanan atas atau kiri atas

2. Dalam surat lamaran pekerjaan, perlu bersikap hormat, tetapi tidak boleh terlalu merendahkan diri.

3. Surat lamaran ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta menggunakan ejaan yang tepat, atau boleh juga menggunakan bahasa asing, tetapi harus sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar.

4. Jelaskan identitas diri pelamar, misalnya:

a. nama lengkap

b. tempat dan tanggal lahir

c. jenis kelamin

d. status diri

e. alamat

f. pendidikan

g. pengalaman kerja, bila punya

5. Pekerjaan yang diinginkan sesuai dengan kemampuan pelamar dan sesuai dengan yang tertera dalam informasi lowongan pekerjaan

6. Lampirkan kelengkapan surat lamaran berupa surat-surat yang diperlukan sebagai bahan pertimbangan. Misalnya: daftar riwayat hidup, salinan ijazah, surat keterangan dari dokter, pas foto, surat keterangan pengalaman kerja, surat keterangan catatan kepolisian, dan lain-lain.

Contoh:

Hal: Lamaran pekerjaan                                           Jakarta, 19 Februari 2010

Yth. Kepala Bagian Personalia

PT Gunung Jati

Jalan Raya Cililitan No 123

Jakarta Timur

Dengan hormat,

Sehubungan dengan iklan perusahaan PT…. yang dimuat dalam harian… 18 Februari 2010 tentang penerimaan karyawan baru untuk bidang administrasi, dengan ini saya,

nama lengkap                      : Ahmad

tempat dan tanggal lahir: Jakarta, 25 Desember 1985

jenis kelamin                       : Pria

Status perkawinan            : belum menikah

alamat                                    : Jalan Raya Condet no. 11 rt001 rw002 Cililitan

Jakarta Timur

pendidikan                           : 1. SMK, tamat th 2004

2. Sarjana Ekonomi, tahun 2005

3. Kursus Komputer

dengan ini mengajukan lamaranpekerjaan  untuk bidang administrasi.

Sebagai bahan pertimbangan, bersama ini saya lampirkan a) daftar riwayat hidup, b) salinan ijazah, c) surat keterangan catatan dari kepolisian, d) surat keterangan kesehatan dari dokter, e) pas foto yang terakhir ukuran  4×6.

Saya sangat mengharap Bapak berkenan mempertimbangkan lamaran saya ini. Atas perhatian Bapak saya mengucapkan terima kasih.

Hormat saya,

Ahmad

Jenis karangan:

Jenis karangan ada 5, yaitu:

1.Narasi: adalah jenis karangan yang berisi cerita/fiksi yang disusun secara kronologis/urutan waktu terjadinya.

misalnya: cerpen, roman, drama dll.

2. Deskripsi adalah jenis karangan yang menggambarkan sesuatu sehingga pembaca seoah-olah melihat, mendengar, merasakan apa yang ditulis oleh pengarang. Deskripsi dapat menggambarkan tentang suatu keadaan, kejadian, suasana, atau perasaan hati seseorang (cinta, sayang, benci, dan cemas)

3. Eksposisi adalah jenis karangan  yang menjelaskan hal yang berupa data, fakta, dan gambar sehingga pembaca dapat memperoleh informasi.

4. Argumentasi adalah jenis karangan yang berusaha meyakinkan pembaca dengan data, fakta dan gambar disertai dengan sejumlah alasan yang masuk akal.

5. Persuasi adalah jenis karangan yang berusaha membujuk, merayu pendengar atau pembaca agar mau berbuat sesuatu sesuai dengan keinginan penulis. Biasanyaditujukan untuk mencari pengaruh atau massa.

Persiapan atau langkah-langkah menyusun karangan:

1. Menetapkan tema/topik

2. Menetapkan tujuan

3. Mengumpulkan data/bahan

4. Membuat outlina/kerangka karangan

5. Menyusun kerangka karangan menjadi bentuk paragraf

Beda simpulan deduktif dan induktif

1. Teknik induktif, adalah pernyataan yang dimulai dari pengumpulan data atau fakta dengan menyebutkan peristiwa-peristiwa yang khusus kemudian diakhiri dengan kesimpulan umum yang merupakan ciri umum data atau fakta.

Ciri-cirinya:

a. Gagasan utama terletak pada akhir kalimat

b. Gagasan penjelas terletak pada awal dan merupakan anak kalimat, gagasan utama merupakan induk kalimat.

c. Peristiwa-peristiwa khusus diakhiri kesimpulan umum.

2. Teknik deduktif, adalah pernyataan yang dimulai dengan menyebutkan peristiwa umum kemudian diikuti dengan peristiwa-peristiwa yang khusus.

Ciri-cirinya:

a. Gagasan utama terletak pada awal kalimat

b. Kesimpulan umum diikuti peristiwa-peristiwa khusus.

c. Gagasan utama merupakan induk kalimat, gagasan berikutnya merupakan anak kalimat.

44 Kesalahan Orang Shalat:

44 keslahan orang shalat, yaitu:

1. Berjalan tergesa-gesa ke masjid mengejar ruku’

     Berjalan dengan tergesa-gesa menuju masjid adalah perbuatan yang dilarang Rasulullah saw, beliau bersabda yang artinya:”
“Apabila shalat telah dimulai, maka janganlah kamu mendatanginya dengan tergesa-gesa. Namun datangilah dengan berjalan, dan kamu harus tenang. Lalu, apapun yang kalian dapatkan (bersama imam), maka shalatlah. Dan apa yang kalian tertinggal, maka sempurnakanlah”. <HR Al – Bukhari 636, Muslim>

2. Mengucapkan niat

     Syaikh bin Baz dalam fatwanya mengatakan, “Melafazkan niat adalah bid’ah dan mengeraskan dalam melafazkan lebih besar dosanya. yang disunahkan adalah, membaca niat dalam hati. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui apa pun yang tersembunyi. Dialah Allah, yang berfirman, “Katakanlah, apakah kalianmemberitahukan Allah tentang perkara agamamu, sedangkan Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi?”

3. Imam yang selalu membaca basmalah dengan keras

     Membaca basmalah dengan suara keras dalam shalat-shalat jahriyah (subuh, maghrib dan isya) bukanlah petunjuk dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena Rasul membacanya dengan suara pelan.

4. Memfasih-fasihkan bacaan

     Ibnul Jauzi Rahimahullah berkata,”Iblis mengganggu orang yang shalat dalam pengucapan huruf dari makhrajnya”.

5. Kata-kata bid’ah yang diucapkan makmum saat imam membaca Al-Fatihah

     Ada sebagian makmum , ketika imam membaca: iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, mereka mengucapkan: ista’antum birobbil ‘arsyil azhim.

6. Terlalu panjang mengucapkan amin

7. Makmun tidak bareng dengan imam ketika mengucapkan AMIN

     Rasulullah bersabda yang artinya”Jika imam membaca amin, maka bacalah amin olehmu. Karena siapa yang mengikuti ucapan amin sang imam, para malaikat juga mengucapkan amin. Dan Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.: ( HR. Al- Bukhari).

8. Tidak memakai pembatas

     Abu said Al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, yang artinya,”Jika salah seorang di antara kamu mendirikan shalat, maka hendaknya ia shalat denagn pembatas dan mendekati pembatas itu.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

9. Berjalan di tengah jamaah yang sedang shalat

     Rasulullah  Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya:”Jika orang yang berjalan di depan seorang yang tengah mendirikan shalat mengetahui dosa apa yang diterimanya, maka alangkah lebih baik baginya i’tikaf empat puluh, dari pada ia berjalan di depan mereka.” (HR Al-bukhari 510)

10. Melipat (menyingsingkan) pakaian

     Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Rasulullah bersabda yang artinya:”Aku diperintahkan untuk sujud dengan tujuh anggota tubuh(yang menyentuh lantai) dan melarangku agar tidak melipat baju atau rambutku.” (diriwayatkan oleh Muslim 1077)

11. Menjulurkan pakaian dan memanjangkannya (isbaal)

     Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Rasulullah s.a.w,beliau bersabda yang artinya:”Bagian kaki yang tertutup kain di bawah mata kaki, akan disiksa di neraka.” (HR Al-Bukhari, 5787)

12. Tidak merapatkan dan meluruskan barisan/shaf

     Beliau bersabda yang artinya:”Hai hamba Allah ! Luruskan shaf kalian atau Allah akan memperselisihkan di antara kalian.” (HR Muslim 950, kitab Shalat)

13. Meletakkan kedua tangan di bawah dada ketika berdiri dalam shalat

     dari Wail bin Hujr r.a., ia berkata, “Aku shalat bersama Rasulullah saw, aku melihat beliau meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya, keduanya berada di atas dada.”

14. Menengadah ke langit (ke atas dalam shalat)

     Dari Jabir bin Samurah r.a. , ia berkata: Rasulullah saw, bersabda yang artinya:”Jangan ada kaum yang mengangkat pandangan ke langit dalam shalat, atau jangan kembali lagi kepada mereka.”(diriwayatkan oleh Muslim 941 kitab Shalat)

15. Shalat menggunakan pakaian yang mengganggu konsentrasi jamaah atau pakaian bergambar

     Beliau bersabda yang artinya:”Bawa tendaku ini kepada Abu Juham dan bawa kain yang ada pada Abu Juham,karena tadi aku terganggu dalan shalatku.” (riwayat Al-bukhari 373)

Keslahan ke-16: Memejamkan mata ketika shalat.

Kesalahan ke-17: Tidak thuma’ninah dalam shalat

 Dari Ubadah bin Shamit r.a, ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihiwa Sallam bersabda, yang artinya,” Lima macam shalat yang ditermia oleh Allah, (mereka itu) adalah: shalat seseorang yang menyempurnakan wudhu, shalat pada waktunya, menyempurnakan ruku’, menyempurnakan sujud dan yang shalat dengan khusu’. Allah berjanji untuk mengampuni (dosa mereka yang mendirikan shalat dengan lima kriteria di atas). Jika merteka tidak melakukan kelima hal di atas, Allah tidak akan memberikan apa-apa, jika Allah ingin maka akan menyiksa mereka, namun jika Allah berkehendak maka Allah akan mengampini dosa-dosa mereka. (HR Abu daud hlm. 425).

Kesalahan ke-18: Tidak meratakan punggung ketika ruku’

            Rasulullah saw. Bersabda kepada orang yang keliru dalam shalatnya, yang artinya,”Apabila kamu ruku’, maka letakkan kedua telapak tanganmu di atas kedua lututmu, dan luruskan punggungmu dan sempurnakan ruku’mu.” (hadis shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud).

Kesalahan ke-19: tidak thuma’ninah ketika bangkit dari ruku’

            Dalam kondisi berdiri dari ruku’ rasulullah saw. Memerintahkan kami untuk berdiri sejenak (thuma’ninah), beliau berkata pada orang yang salah dalam shalat: Angkat kepalamu sampai berdiri dengan sempurna, agar setiap sendi berada pada posisinya.”

Kesalahan ke-20: Makmum tidak membaca’sami’allahhu  limah hamidah”

Kesalahan ke-21: Sujud yang diawali dengan dua lutut

            Hadis Rasulullah saw. Yang diriwayatkan oleh Al Bukhari bahwa Rasulullah bersabda yang artinya;”Apabila kamu sujud, maka jangan meletakkan lutut terlebih dahulu seperti anak unta, namun letakkanlah kedua telapak tangan sebelum kedua lutut.” (Hadis shahih diriwayatkan Ahmad jilid II hlm. 381).

Kesalahan ke-22: Tidak menempelkan hidung ke lantai ketika sujud

            Rasulullah bersabda, yang artinya,”Orang yang tidak menyentuhkan hidungnya ke lantai tidak dianggap shalat.” (HR Al-Hakim jld I hlm. 270)

Kesalahan ke23: Tidak menghadapkan jemari kaki ke arah kiblat ketika sujud

Kesalahan ke24: Menjauhkan kedua telapak kaki di saat shalat

            Sabda Rasulullah saw.”Tempelkanlah badan kalian ketika berbaris dalan shaf-shaf.”

Kesalahan ke-25: Tidak thuma’ninah ketika duduk di antara dua sujud

            Rasulullah saw. Bersabda yang artinya,”Bersujudlah sehingga engkau berthuma’ninah dalam sujud, dan bangunlah dari sujudmu, sehingga engkau berthuma’ninah dalam duduk.” (Hadis Muttafaq Alaih)

Kesalahan ke-26: Meninggalkan duduk istirahat (sebelum rakaat kedua dan keempat)

Kesalahan ke-27: Tidak bertumpu pada kedua tangan ketika bangun dari sujud

Kesalahan ke-28: Tidak membaca tahiyat dengan sempurna pada tasyahud pertama

Kesalahan ke 29: Mengangkat jari tangan hanya pada saat mengucap dua syahadat dalam tahiyyat

Kesalahan ke-30: Menambah kata “sayyidina” ketika menyebut rasulullah dalam tasyahud dan adzan

            Rasulullah saw. telah bersabda, yang artinya;” Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat”.

Kesalahan ke-31: Isyarat dengan kedua tangan ketika memberikan salam dalam shalat

Kesalahan ke-32: Miring sedikit ke arah kiri dan kanan ketika salam

Kesalahan ke-33: Mendahului imam dalam ruku’ dan sujud

            Beliau bersabda yang artinya,” Wahai manusia, aku adalah pemimpin kalian, maka kalian jangan mendahuluiku baik dalam ruku’, sujud, bardiri, ataupun meninggalkan tempat shalat. Karena sesungguhnya aku melihat kalian di depanku dan di belakngku.”(HR Muslim 936)

Kesalahan ke -34: Memalingkan wajah dalam shalat

Kesalahan ke-35: Membiarkan pakaian tergerai ke bawah menutup mulut dalam shalat

Kesalahan ke-36: Selalu membaca qunut setiap shalat subuh

Kesalahan ke-37: Menarik seseorang dari shaf depan untuk menemani makmum yang sendirian di belakang

Keslahan ke-38:membaca Al-Qur’an ketika ruku, dan sujud

            Rasulullah saw. Bersabda yang artinya,”Bukankah aku telah melarang untuk membaca Al Quran ketika ruku’ dan sujud. Maka dalam ruku’, agungkanlah Tuhan Azza wa Jalla, dan dalam sujud berijtihadlah dengan berdoa. Maka sewajarnya (qamin) doa tersebut dikabulkan.” (HR Muslim 1056)

Kesalahan ke-39: Berdoa setelah mengucapkan salam dan mengusap muka di akhir shalat

Kesalahan ke-40: Berdoa bersama adalah bid’ah

Kesalahan ke-41: Mengusap kedua tangan setelah berdoa

Kesalahan ke-42: Membaca tasbih dengan menggerakkan tangan kiri dan putaran tasbih

            Rasulullah saw. Bersabda yang artinya,”Bacalah tasbih, tahlil, taqdis (menyucikan Allah), dan hitunglah dengan jari jemarimu, sebab jari jemarimu itu nanti akan dipertanggungjawabkan dan akan menjadi saksi.”

Kesalahan ke-43: Bid’ah berjabat tangan setelah salam

Kesalahan ke-44: Bid’ah sujud yang dilakukan Mushalli setelah selesai shalat

 Sumber:44 Kesalahan Orang Shalat karya: Syaikh Muhammad Bayumi

Kalimat Efektif dan Tidak Efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang disusun menurut pola struktur yang benar dan sesuai dengan situasi yang menyertainya. Orang yang membaca kalimat efektif dan yang mendengarkan langsung dapat memahaminya dengan mudah dan tepat.

Ciri-ciri kalimat efektif adalah:

1. Sesuai dengan bentuk gramatikal

2. Pilihan katanya tepat

3. Tidak tumpang tindih dalam menggunakan kata-kata

4. Tepat dalam penggunaan kata depan

5. Penggunaan kata yang bermakna kiasan sangat dihindari

6. Kalimatnya: singkat, tepat, padat dan jelas.

Berikut ini adalah contoh kalimat yang tidak efektif:

1.Mobilnya ayah dijual dengan harga yang sangat murah sekali

2. Banyak para pelancong yang membeli batik dan ukiran.

3. Masalah tentang kebersihan merupakan masalah yang sangat penting.

4. Hujan turun dengan sangat lebatnya, walaupun demikian temanku datang juga.

5. Semua peserta daripada lokakarya itu sudah pada hadir.

Bentuk efektifnya:

1. Mobil ayah dijual dengan harga murah.

2. Para pelancong membeli batik dan ukiran.

3. Masalah kebersihan sangat penting.

4. Walaupun hujan lebat temanku datang juga.

5. Semua peserta lokakarya sudah hadir.

jangan kau dholimi …

jangan kau dholimi kawan ?

kita adalah seprofesi

kenapa kau begitu  kawan ?

berikanlah data apa adanya…

tapi knapa kau curangi aku???

tapi ingat …balasan akan ada padamu…

jangan kau khianati kawan ???

tapi knapa kau slalu…… ???

sadarlah kau kawan ???

tar banyak kawan menjuahimu….

apa kau tidak tahu ?

berkacalah pada dirimu sendiri

sudahkah aku menjadi manusia yg sempurna ?

…..

jangan curangi aku…

Hikmah turunnya Al Qur’an secara berangsur-angsur

Al Qur’an diturnkan secara berangsur-angsur dlm masa 22 tahun 2 bulan dan 22 hari. Hikmah diturunkan secara berangsur-angsur adalah:

1. Agar mudah dimengerti dan dilaksanakan. Orang akan enggan  melaksanakan suruhan dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini disebutkan oleh Bukhari dari riwayat ‘Aisyah r.a.

2. Di antara ayat-ayat itu ada yang nasikh dan ada yg mansukh, sesuai dengan kemaslahatn. Ini tidak dpt dilakukan sekiranya Al Qur’an diturunkan sekaligus.

3. Turunnya sesuatu ayat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yg terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.

4. Memudahkan penghafalan. Orang-orang musyrik yang telah menanyakan mengapa Al Qur’an tidak diturunkan sekaligus, sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an surat (25) Al Furqaa ayat 32, yaitu:”… mengapakah Al Qur’an tidak diturunkan kepadanya sekaligus….?”Kemudian dijawab di dalam ayat itu sendiri: “…Demikianlah, dengan (cara) begitu Kami hendak menetapkan hatimu…”.

5. Di anatara ayat-ayat ada yang merupakan jawaban dari pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas r.a. Hal ini tidak dapat terlaksana kalau Al Qur’an diturunkan sekaligus.