Wacana gender


 

PEMAHAMAN

WACANA GENDER

MODUL
Dra. Budiarti, M.Pd

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2009


WACANA TENTANG GENDER

 

MUNCUL DAN BERKEMBANGNYA WACANA GENDER

 

“ … gender is one of the universal dimensions on which status differences are based. Unlike sex, which is a biological concept, gender is a social construct specifying the socially and culturally prescribed roles that men and women are to follow.”

Margaret Mead

Gender merupakan kajian tentang tingkah laku dan peran yang dimainkan perempuan dan laki-laki dan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Hubungan antara laki-laki merupakan hubungan sosial. Gender berbeda dari jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang bersifat biologis, karena yang dianggap maskulin dalam satu kebudayaan dapat dianggap sebagai feminim dalam budaya lain. Dengan kata lain, ciri maskulin atau feminim itu tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata-mata pada perbedaan jenis kelamin.

Dulu… aku feminism, sekarang aku Genderism I

 

Gender seringkali disamakan dengan feminim. Gender berbeda dengan feminisme. Perbedaan itu terletak dari sudut pandang dan permasalahan yang menjadi pusat perhatian diantara keduanya. Jikalau feminisme lebih cenderung pada keinginan kaum wanita untuk serba wanita, gender mengkaji tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan supaya terjadi kesetaraan peran. Feminisme, pandangan tentang wanita yang dianggap terlalu ekstrim kewanitaannya. Feminisme bertitik tolak pertanyaan “dan bagaimana dengan wanita?” atau dengan kata lain dimana wanita dalam setiap situasi yang terjadi. Kemudian diteruskan dengan “Mengapa semua ini terjadi?” yang menghasilkan teori sosial umum tentang kehidupan. Pertanyaan kemudian dilanjutkan dengan “Bagaimana kita dapat mengubah dan memperbaiki dunia sosial untuk membuatnya menjadi tempat yang lebih adil bagi perempuan dan semua orang? Sedangkan gender adalah membangun suatu pemahaman tentang adanya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki sebagaimana kiprahnya manusia di segala bidang kehidupan, tanpa dipengaruhi muatan yang didasarkan pada keberadaan biologis laki-laki dan perempuan.

Kita punya kesempatan membuat masa depan lebih baik

 

Tidak dapat disangkal bahwa, wacana tentang gender adalah wacana yang muncul setelah perkembangan feminisme mencapai puncaknya. Wacana gender muncul sebagai kritik atas feminisme yang cenderung mengedepankan sisi keperempuan dibandingkan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Gender menghendaki adanya kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan secara adil. Persamaan diantara feminisme dan gender, kedua-duanya menghendaki adanya penggalian kembali (rekonstruksi) tentang peran perempuan dan laki-laki di dunia sosial.

RUANG LINGKUP GENDER

Wacana tentang gender kebanyakan mendapat perhatian dari para sosiolog. Berdasarkan klasifikasi teoretis di disiplin ilmu ini, wacana gender dikelompokkkan menjadi teori sosial makro dan teori sosial mikro.

FUNGSIONAL
TEORI KONFLIK
TEORI SISTEM DUNIA
INTERAKSIONISME SIMBOLIK
ETNOMETODOLOGI
TEORI SOSIOLOGI

MIKRO

TEORI FEMINIS

 

 

 

 

 

Teori Sosial Makro Tentang Gender

Pusat perhatian mereka (analisis) tertuju pada perbedaan jenis kelamin dalam kaitannya dengan fenomena sosial yang lebih luas. Dari pandangan ini, muncul perbedaan sudut pandang apa yang menjadi pusat kajian (subject matters).

 

Pertama, mereka yang mengkaji tentang fenomena perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan sebagai sistem antar hubungan dan struktur interaksi yang dipahami “sebagai keteraturan pola dalam perilaku individu.” Teoris fungsional dan konflik memusatkan perhatian pada negara-bangsa atau pada pengelompokkan kultural pra-modern. Teoris sistem dunia memusatkan perhatian pada kapitalisme global dengan inti negara bangsa sebagai struktur penting.

 

Kedua, mereka yang memusatkan perhatian pada wanita di dalam sistem yang telah digambarkan tersebut (global dan negara bangsa). Ketiga teoretis berkesimpulan tentang lokasi yang menjadi pusat perhatian yaitu lokasi kultural yakni keluarga (rumah tangga) dan kehidupan ekonomi.

 

Ketiga, ketiga teoretisi (fungsional, konflik, dan sistem dunia-Neo Marxis) mencoba menerangkan stratifikasi jender yang dipandang merugikan wanita dilihat dari wilayah struktural yaitu Keluarga, Ekonomi, dan Proses Sistem Sosial.

 

 

 

 

 

 

 

  • Setelah kita berkeluarga… Kamu kan perempuan jangan cari uang ya… kamu mengurus anak aja, aku yang tugas cari uang!

    Fungsionalisme

 

Memang begitu ya seharusnya?

Tidak

ada alternatif lain?

 

Pemangkunya adalah Mirriam Johnson, ia menyatakan bahwa telah terjadi kegagalan para teoretisi fungsionalisme dalam meneliti secara memadai kerugian yang dialami wanita dalam masyarakat. Fungsionalisme cenderung meminggirkan masalah ketimpangan sosial, dominasi dan penindasan, suatu kecenderungan yang lumrah biasa terjadi karena fungsionalisme bertumpu pada ketertiban sosial.

Paling pokok bagi teoretisi fungsional untuk memahami masalah jender adalah analisis peran ekspresif versus peran instrumental, hubungan lembaga keluarga dan lembaga lain, dan model tentang masyarakat fungsional.

Johnson menempatkan asal-usul ketimpangan jender berasal dari struktur keluarga yang partiarki. Keluarga mempunyai fungsi yang berbeda dari lembaga ekonomi dan lembaga publik. Keluarga mensosialisasikan anak dan mempengaruhi anggotanya yang dewasa, berperan penting dalam memperkukuh ikatan sosial dan memproduksi nilai (integrasi dan pemeliharaan pola). Posisi sosial utama wanita dalam struktur keluarga adalah sebagai produsen utama fungsi-fungsi pokok keluarga. Melaksanakan peran tersebut, wanita harus berorientasi secara ekspresif yakni dengan penyesuaian emosional dan tanggapan kasih sayang. Fungsi wanita dalam keluara berorientasi pada penekanan perasaan kasih sayang (expressiveness) dan mempengaruhi fungsi mereka dalam seluruh struktur sosial lainnya terutama ekonomi.

Disana tidak terjadi stratifikasi gender. Di dalam keluarga partiarki, wanita mengasuh anak dengan berorientasi pada pengungkapan perasaan kasih sayang, mereka bertindak dengan kekuatan dan wewenang, memberikan perasaan kemanusiaan yang sama baik kepada anak laki-laki maupun wanita. Paksaan kultural dan kelembagaan mengharuskan wanita lemah dan selalu mengalah dalam hubungan dengan suaminya secara instrumental mengalami persaingan dalam mencari nafkah keluarga. Dalam melihat wanita dalam peranannya yang lemah, anak-anak mulai belajar memuja sistem partiarkis dan mendevaluasi sikep mental yang mengutamakan perasaan. Peran instrumental laki-laki dianggap lebih objektif dibandingkan peran perasaan wanita dan ini menyebar ke dalam kultur.

Aku juga bisa melakukan sesuatu yang suamiku bisa lakukan..
Aku juga bisa melakukan sesuatu yang suamiku bisa lakukan..
Lingkungan membuatku jadi begini….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Teori Konflik

Tokoh yang memfokuskan perspektif konflik pada masalah jender adalah Janet Chafetz. Lebih khusus ia memusatkan perhatiannya pada masalah ketimpangan jender yang ia sebut sebagai stratifikasi jenis kelamin. Menurut Chafetz, wanita mengalami kerugian apabila mereka menyeimbangkan tanggungjwab rumah tangga dan kebebasan peran dalam produksi ekonomi secara signifikan. Rumah tangga (keluarga) tidak dipandang sebagai bidang yang berada di luar area pekerjaan, sebuah kawasan emosi dan pemeliharaan, tetapi dipandang sebagai tempat berlangsungnya pekerjaan – perawatan anak, mengurus rumah tangga dan kadang-kadang juga bekerja menghasilkan tambahan uang bagi rumah tangga.

Untuk mencapai kesetaraan jender guna mencapai kesetaraan peran pria-wanita ia menyarankan harus memahami struktur kunci yang dapat diubah dalam keluarga.

 

Mengurus rumah tangga juga pekerjaan yang berharga, saya adalah suami yang memberikan kebebasan kepada istri. Mendidik anak adalah tanggung jawab kami berdua…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kita, wanita harus sadar, bahwa kita bukan sapi perahan kaum industriawan,

Kita harus berubah….

 

  • Teori Sistem Dunia

 

 

BROADCASTING

“PUTIH ITU CANTIK”

 

Teoritisi yang mengkaji tentang kesetaraan gender berdasarkan teori sistem dunia adalah Kathryn B. Ward, yang berusaha memahami persoalan gender akibat berkembangnya dunia ke dalam tataran global. Pusat perhatiannya adalah tenaga kerja wanita yang menjadi bagian dari kapitalisme yakni ketika wanita bekerja dalam proses produksi dan pasar kapitalis.

Teori Sosiologi Mikro Tentang Gender

Teoretisi sosiologi mikro kurang memperhatikan kerugian sosial wanita ketika membahas masyarakat sebagai manusia-manusia yang berinteraksi. Pertanyaan yang mereka ajukan adalah mengapa jender muncul dalam interaksi dan mengapa interaksi menghasilkan perbedaan gender. Dua sosiologi mikro utama yang membahas gender adalah interaksionisme simbolik dan etnomoetodologi.

  • Interaksionisme simbolik

Analisis pakar interaksionisme simbolik menunjukkan bahwa individu terlibat dalam mempertahankan diri berdasarkan gender dalam berbagai situasi, individu mempunyai gagasan tentang apa makna menjadi laki-laki dan wanita. Individu membawa kedirian menurut jenis kelamin ke dalam situasi dan mencoba bertindak sesuai dengan pengertian yang telah dihayati ini, yang mungkin berubah melalui interaksi dari situasi ke situasi, tetapi merupakan gudang komponen jenis kelamin perilaku individu.

Aku laki-laki, harus begini…, begitu….
Aku perempuan harus begini,,, juga harus begitu

 

dalam interaksi

perempuan terus

mempertahankan identitasnya sebagai Perempuan,

demikian juga laki-laki….

terus mempersepsikan dirinya sebagai laki-laki

 

  • Etnometodologi

Pusat perhatiannya adalah bagaimana jender diperankan oleh aktor dalam berbagai situasi. Pakar etnometodologi membuat perbedaan penting teoretis antara jenis kelamin (pengenalan biologis sebagai laki-laki dan wanita) dan jender (perilaku yang memenuhi harapan sosial untuk laki-laki dan wanita). Jender tidak melekat dalam diri seseorang, tetapi dicapai melalui interaksi dalam situasi tertentu. Kategori jenis kelamin adalah kualitas individual yang secara potensial selalu ada, maka prestasi jende adalah kualitas yang secara potensial selalu ada dalam situasi sosial. Orang dalam situasi tertentu tahu bahwa mereka bertanggungjawab melaksanakan peran jenis kelamin karena situasi memungkinkan seseorang berperilaku sebagai laki-laki atau wanita dan sejauh orang lain mengakuinya.

 

 

 

Teori Feminis

 

Variasi mendasar teori feminis yang menjawab pertanyaan deskriptif “Apa peran Wanita?   Perbedaan dalam teori menjawab pertanyaan yang menjelaskan “Mengapa situasi wanita seperti itu?
Posisi wanita dan pengalamannya di dalam kebanyakan situasi yang berbeda dengan laki-laki PERBEDAAN JENDER Feminisme kultural

Institusional

Eksistensi dan fenomenologi

Posisi wanita dikebanyakan situasi tak hanya berbeda, tetapi juga kurang beruntung atau tak setara dengan posisi laki-laki KETIMPANGAN JENDER Feminisme liberal

Marxian

Penjelasan Marx dan Engels

Marxian kontemporer

Wanita ditindas, tak hanya dibedakan atau tak setara, tetapi secara aktif dikekang, dibentuk dan digunakan, dan disalahgunakan oleh laki-laki PENINDASAN JENDER Feminisme psikoanalis

Feminisme radikal

Feminisme sosialis

Pengalaman wanita tentang pembedaan, ketimpangan dan berbagai penindasan menurut posisi sosial mereka PENINDASAN STRUKTURAL Feminisme sosialis

Teori interaksional

 

PERBEDAAN GENDER

 

Secara biologis, wanita dikodratkan berbeda dengan laki-laki. Tetapi itu tidak berarti bahwa wanita tidak dapat memainkan peran yang umumnya dimainkan oleh laki-laki.

Laki-laki bisa menjadi pemimpin, begitu juga kaum wanita. Kita (laki-laki dan perempuan) mempunyai peluang yang sama untuk menjadi “sesuatu.”

 

  1. I.         GENDER DALAM PERSPEKTIF HUKUM DAN AGAMA
    1. Pandangan Hukum Terhadap Peran Politik dan Sosial Laki-laki dan Perempuan

Pelbagai produk hukum (UU, PP, Perpu, dan lain sabagainya) dan hukum adat tentang siapa, bagaimana, dan apa peran laki-laki dan perempuan.

Dalam kacamata hukum, tidak dibedakan antara hak dan kewajiban warga negara terhadap negara, keduanya sama-sama dipandang sebagai warga negara yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Perempuan dan laki-laki memiliki peluang untuk sekolah, berusaha, dan menentukan karirnya sendiri, tanpa membedakan kodrat biologis diantara keduanya.

Model: Penelusuran (Risetasi) artikel dan peraturan-peraturan perundang-undangan.

  1. Pandangan Agama Terhadap Peran Politik dan Sosial Laki-laki dan Perempuan

Pelbagai pandangan antara laki-laki dan perempuan dalam kitab-kitab agama yang memandang laki-laki dan perempuan dalam tugas dan tanggungjawab antara laki-laki dan perempuan mandiri, berkeluarga dan sudah lanjut usia dan pisah.

Agama memandang bahwa perempuan dan laki-laki sebagai ciptaan Tuhan yang diciptakan untuk saling melengkapi. Perbedaan merupakan anugerah, karena dengan perbedaan manusia dapat menciptakan keturunan bagi kelangsungan umat manusia.

Topik Diskusi:

Dalam pandangan umat Islam di Indonesia, misalnya terutama kaum tradisional, menganggap bahwa perempuan tidak diperkenankan menjadi presiden. Alasan yang dikemukakan bahwa laki-laki adalah Imam bagi perempuan. Hal ini banyak mendapatkan penolakan dari aktivis perempuan, karena dianggap bahwa pernyataan larangan pemimpin dari kalangan perempuan membatasi peran politik perempuan?

Tugas Anda!

Temukan alasan-alasan yang mendasari pernyataan bahwa Laki-laki sebagai Imam?

Bagaimana Anda (Laki-Laki dan Perempuan) menangggapi keadaan seperti itu?

Model: Penelusuran (Risetasi) ayat-ayat, doktrin, dan pidato keagamaan.

  1. II.      GENDER DALAM KEHIDUPAN SOSIAL
    1. 1.    Gender dalam Keluarga
Waah… ternyata Keluarga punya pengaruh besar tentang masa depan masyarakat kita ke depan…

 

Keluarga adalah sumber utama yang dapat memberikan pemahaman yang salah dan atau benar tentang peran laki-laki dan wanita. Keluarga adalah perpustakaan pertama dan utama, seorang anak belajar tentang peran seksnya sebagai manusia. 

 

Keluarga merupakan unit penting, ia sebagai sumber belajar pertama bagi kehidupan seorang anak dan pusat penting dari semua kegiatan sosial. Keluarga mengandung potensi dalam membentuk wacana tentang pemahaman gender (peran antara laki-laki dan perempuan). Pemahaman yang dibentuk secara tidak langsung dan langsung oleh keluarga kepada anak-anak dan keluarganya memiliki pengaruh terhadap pemahaman tentang peran laki-laki dan perempuan, seperti seringkali muncul “Kamu itu Laki-Laki, harus begini dan begitu?”… dan “Kamu itu Perempuan, harus begini dan begitu?”, suatu kalimat yang mengawali pemahaman tentang peran seks perempuan dan laki-laki. 

Pembentukan Peran Seks dalam Keluarga

Pernah ada waktu ketika belajar berperan sesuai dengan jenis kelamin merupakan bagian normal dari proses pertumbuhan sehingga tidak seorang pun menganggapnya sebagai masalah. Terdapat pola-pola yang disetujui dan ditentukan secara budaya bagi anak perempuan dan anak laki dalam hal berpikir, bertindak, berpenampilan, dan berperasaan. Juga terdapat pola-pola yang disetujui dan ditetapkan bagi anak untuk mempersiapkan diri akan pola kehidup-an dewasa.

Tindakan Ayah dan Ibu adalah suritauladan bagi anak tentang peran seks.

Pada saat anak-anak beralih dari masa bayi ke masa kanak-kanak, ke masa remaja dan akhirnya ke masa dewasa, mereka belajar untuk memainkan peran yang ditentukan ini, sama halnya seperti mereka belajar hal lain yang dianggap perlu untuk penyesuaian yang baik pada pola hidup masa dewasa, mereka mengetahui dengan tepat pola kehidupan mereka dan telah siap untuk melaksanakan-nya dengan berhasil. Karena tidak pernah terbuka alternatif lain, mereka belajar menerima peran seks mereka, meskipun sebenarnya mereka mungkin ingin dilahirkan dengan jenis kelamin yang lain.

Anak-anak mengidentifikasi peran seks dari keluarga…

 

Diartikan secara umum, istilah “peran seks” berarti pola perilaku bagi anggota kedua jenis kelamin yang disetujui dan diterima ke­lompok sosial, tempat individu itu mengidentifikasikan diri. Block telah mendefinisikan peran seks dengan lebih spesifik sebagai “gabungan sejumlah sifat yang oleh seorang diterima sebagai karakteristik pria dan wani­ta dalam budayanya”… jadi peran seks adalah konstruksi sosial. Ward telah memperkuat definisi ini dengan mengatakan, “pe­ran seks yang ditentukan secara budaya mencerminkan perilaku dan sikap yang umumnya disetujui sebagai maskulin atau feminin dalam suatu budaya tertentu”.

Keluarga dapat mempengaruhi pembentukan pemahaman yang salah, pandangan negatif terhadap peran laki-laki dan perempuan.

TINDAKAN PEREMPUAN LAKI-LAKI
Permainan    
Terpusat pada Perasaan Tertuju pada afektif (ketangkasan)
Orientasi Perawat Pemain bola, pembalap, dsb

 

Pemahaman yang salah terhadap peran laki-laki dan perempuan berasal dari perlakuan orang dewasa terhadap anak-anak. Anak laki-laki misalnya dianggap aneh apabila terlihat main boneka, atau anak perempuan main mobil-mobilan. Perlakuan itu berakibat pada pembentukan karakter pada anak dan juga pemahaman bahwa anak perempuan itu begini dan begitu. Mengajarkan anak tentang “apa yang harus diperankan” akan terbawa terus dari generasi selanjutnya.

Asal Mula Stereotip Peran Seks

Spekulasi mengenai asal mula stereotip peran seks dapat didasarkan atas studi-studi antropologi mengenai kehidupan berkelompok, studi sosiologi mengenai pola kehidup­an keluarga sejak terdapatnya catatan sejarah, studi medis mengenai perbedaan fisik dan fisiologis antara jenis kelamin sejak beberapa-abad sebelum Masehi dan kepercayaan tradisional sejak zaman dulu yang sulit dilacak asal-usulnya.

Perlu diperhatikan bahwa semua pandangan ini menekankan perbedaan antara jenis kelamin, yang kemudian menjadi dasar untuk anggapan bahwa anggota kedua jenis kelamin harus mempunyai peran yang berbeda. Peran yang diberikan pada kedua jenis kelamin ditentukan oleh perbedaan-perbedaan tersebut.

 

Aspek-Aspek Stereotip Peran Seks 

Stereotip peran seks laki-laki dan perempuan mencakup tiga aspek, yaitu aspek kognitif, afektif, dan konatif.

 

 

ASPEK KOGNITIF  ASPEK AFEKTIF  ASPEK KONATIF 
Aspek kognitif mencakup persepsi, anggapan dan harapan orang dari kelompok jenis kelamin pria dan wanita. Anggapan persepsi, dan harapan ini sederhana, seringkali kurang berdasar, dan kadang-kadang sebagian tidak akurat tetapi tetap dipertahankan kuat-kuat oleh banyak orang. Aspek afektif mencakup sikap ramah maupun tidak ramah umum terhadap objek sikap dan berbagai perasaan sikap dan berbagai perasaan spesifik yang memberi warna emosional pada sikap tersebut Perasaan ini mungkin berupa kekaguman dan simpati atau rasa superior, iri hati dan rasa takut. Aspek konatif dari semua stereotip mencakup anggapan mengenai apa yang ha­rus dilakukan berkenaan dengan kelompok yang bersangkutan dan dengan ang-gota tertentu kelompok tersebut. Dalam kasus stereotip peran seks, terdapat ang­gapan bahwa anggota kelompok seks pria harus bertanggung jawab atas tugas-tugas yang menuntut kekuatan fisik, dan bahwa anggota jenis kelamin wanita harus dilindungi terhadap setiap tanggung jawab yang mungkin membahayakan kondisi fi­sik mereka yang lebih lemah.
CONTOH
Ucapan Perempuan harus berbicara yang lembut Laki-laki tidak pernah diharuskan untuk berbicara lembuat
Tindakan Perempuan jangan pulang larut malam Laki-laki tidak dilarang pulang malam
Perempuan jangan sekolah tinggi-tinggi, karena akan berada di dapur juga (domestifikasi) Laki-laki jangan lemah kaya perempuan. Laki-laki harus melindungi perempuan yang lemah. Perempuan harus manut pada suami.

 

Beberapa Fakta Yang Mendasari Stereotip Reran Seks 

Aspek Keterangan
  1. 1.      Perbedaan Fisik
Pria mempunyai tubuh yang lebih besar, otot yang lebih kuat dan kekuatan otot yang lebih besar. Wanita mempunyai tu­buh yang lebih kecil, otot yang lebih kecil, kurang bertenaga. Oleh sebab itu pria mampu melakukan hal-hal yang menuntut tenaga lebih besar, dan wanita mela­kukan hal-hal yang lebih membutuhkan keterampilan hasil koordinasi otot yang lebih baik.
  1. 2.      Perbedaan Fisiologis
Wanita dapat melahirkan anak dan harus mengalami beberapa ketidaknyamanan periodik pada waktu menstruasi. Bila me­nopause terjadi, wanita kehilangan salah satu fungsi fisiologisnya yang utama, disertai penurunan dorongan seks. Sebaliknya, pria tidak mempunyai ketidak­nyamanan periodik tersebut, mereka ti­dak mengalami penurunan dorongan seks, kemampuan membuahi tetap ada, dan satu-satunya peran dalam pembuahan ti-, dak mengganggu pola kehidupan normal mereka.
  1. 3.      Perbedaan Naluri
Ketika orang percaya bahwa kehidupan seseorang dikendalikan naluri atau dorongan-doro’ngan bawaan, naluri keibuan dianggap mendorong wanita untuk ingin menjadi seorang ibu dan mengisi waktunya dengan mengasuh anak. Naluri ayah hanya berfungsi sebagai dorongan untuk melindungi anaknya selama mereka tidak mampu melindungi dirinya.
  1. 4.      Perbedaan Kecerdasan
Sampai pergantian abad ini, ada anggapan bahwa ukuran otak dan tingkat inteligensi sangat erat berhubungan. Karena pria pa-da semua usia mempunyai otak yang le­bih besar dari wanita, mereka dianggap mempunyai inteligensi yang lebih tinggi.
  1. 5.      Perbedaan Prestasi
Sepanjang sejarah, prestasi terbesar dalam seni, musik, sastra, ilmu pengetahuan alam, dan lain-lain adalah prestasi kaum pria. Orang berasumsi bahwa kekuatan dan kemampuan intelektual yang superiorlah yang memungkinkan prestasi yang lebih tinggi ini.
  1. 6.      Perbedaan Emosional
Karena wanita mengalami gangguan perio­dik pada waktu menstruasi, ada anggapan bahwa gangguan fisiologis ini akan mengarah ke gangguan emosional, yang menyebabkan wanita secara emosional tidak stabil. Sebaliknya pria dianggap emosional stabil, seperti halnya mereka secara fisio­logis stabil.
  1. 7.      Perbedaan Kesehatan

 

Sebutan “jenis yang lebih lemah” diberikan pada wanita karena kepercayaan bah­wa mereka lebih banyak mengalami gang­guan fisik dan penyakit dibandingkan pria. Kondisi fisik yang lebih lemah dihu-bungkan dengan tubuh yang lebih kecil dan lemah, menstruasi, dan kehamilan.
Aspek Keterangan
  1. 8.      Perbedaan Angka Kematian
Kematian wanita pada .usia muda dikaitkan dengan sebab-sebab alami kelemahan fisik yang membuat mereka tidak mampu menghadapi derita proses melahirkan — tetapi pada pria, kematian pada usia mu­da dikaitkan dengan cara hidup mereka yang lebih berbahaya, bukan dengan se­bab-sebab alami. Wanita mencapai usia lebih tinggi karena kehidupan mereka le­bih mudah dan aman, berkat perlindungan pria. Pria meninggal lebih dini karena mereka bekerja lebih keras dan lebih ba­nyak dihadapkan pada bahaya dibanding­kan wanita.

 

Contoh Kasus Perlu Dipecahkan:

 

Perlakuan orang dewasa (orang tua) terhadap anak sangat mempengaruhi pemahaman peran seks pada anak laki-laki dan perempuan. Pemahaman peran seks dalam keluarga yang memberikan pemahaman setara pada laki-laki dan perempuan adalah memperlakukan perempuan dan laki-laki sama, dalam artian bahwa laki-laki juga dibiasakan melakukan peran perempuan, juga sebaliknya. Namun demikian, pemberian perlakuan seperti itu, dapat mengubah sikap laki-laki menjadi sikap perempuan seperti misalnya seroang laki-laki menunjukkan perilaku keperempuan (bencong) atau perempuan menjadi laki-laki (waria).

Bagaimanakah cara terbaik yang harus dilakukan agar menyeimbangkan pendidikan yang responsif gender, tetapi tidak menyimpang secara psikologis?

 

Beberapa Pengaruh Antagonismeseks Terhadap Peran Seks

  • Pada anak laki-laki sering berkembang perasaan superioritas yang kurang berdasar.
  • Pada anak perempuan mungkin ber­kembang rasa inferioritas atau perasa­an menjadi korban, yang mempenga-ruhi penyesuaian pribadi dan sosial sepanjang hidup sebagaimana pera­saan superioritas mempengaruhi pe­nyesuaian anak laki-laki.
  • Pada anak perempuan sering berkem­bang perasaan benci karena dilahirkan sebagai wanita dan sikap menentang terhadap peran seks yang disetujui secara budaya.
  • Walaupun anak perempuan senang bermain dengan anak laki-laki dan sebaliknya, hal ini sulit atau tidak mung­kin dilakukan karena ejekan dan penolakan sosial yang timbul.
  • Anak laki-laki dan perempuan sulit menjadi kawan pada masa kanak-kanak.
  • Karena anak laki-laki dan perempuan jarang mengembangkan minat yang sama, kesulitan penyesuaian heteroseksual di masa remaja bertambah besar,
  • Anak laki-laki tidak didorong untuk mengembangkan kecakapan sosial yang “kewanitaan” dan karenanya merasa canggung dalam hubungan sosial de­ngan anak perempuan saat mereka telah bertambah besar.
  • Pada anak laki-laki dan perempuan ber­kembang rasa cemas mengenai kesesuaian jenis.

Beberapa Penyebab Perubahan Dalam Stereotip Peran Seks 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 1.      Perubahan Dalam Gaya Hidup

Bilamana suatu budaya berubah dari budaya pedesaan menjadi budaya kota, tenaga fisik kurang berarti dibandingkan kecakapan. Perbedaan antara kecakapan pria dan wanita jauh lebih kecil dari perbedaan antara tenaga fisik pria dan wani­ta. 

  1. 2.      Gerakan Tes Inteligensi

Dimulai dengan pekerjaan Binet pada pergantian abad ini, tes inteligensi telah sangat meluas bagi semua tingkat usia sehingga tidak terdapat keraguan sedikit pun sekarang bahwa keyakinan akan superioritas kecerdasan pria telah diganti dengan bukti kesamaan kecerdasan. 

  1. 3.      Kontroversi Keturunan Lawan Lingkungan

Walaupun kontroversi ini sama sekali belum mereda, banyak bukti menunjukkan pengaruh lingkungan jauh lebih besar dari yang semula dikira. Dari telaah lintas bu­daya terhadap pengaruh lingkungan yang berbeda-beda, diperoleh bukti bahwa perbedaan antara jenis kelamin lebih disebabkan pendidikan daripada keturunan. 

  1. 4.      Pendidikan Yang Sama

Sejak pendidikan yang sama telah menggantikan “pendidikan anak laki-laki” dan “pendidikan anak perempuan” sejak taman kanak-kanak sampai universitas, tampak bahwa bilamana anak perempuan diberikan kesempatan pendidikan yang sama, mereka dapat mencapai hasil akademik yang sama dengan anak lelaki. 

  1. 5.      Mobilitas

Bila mobilitas geografis untuk mencapai kemajuan dalam pekerjaan mengakibat-kan suatu keluarga harus berpisah dari sanak saudara, para ibu tidak lagi dapat bergantung pada sanak saudara wanita untuk bantuan dalam keadaan darurat, Keadaan ini memaksa banyak pria melakukan tugas-tugas yang sebelumnya dianggap “tugas wanita.” Ini telah membantu terhapusnya stereotip pekerjaan yang berkaitan dengan jenis kelamin.

Contoh Kasus:

Ridwan, seorang Sarjana Ekonomi lulusan universitas negeri terkenal di Indonesia. Pada umur 28 tahun, Ridwan menikah dengan Devi, wanita kaya yang sudah mapan. Berbandng terbalik dengan Ridwan, yang sampai menikah belum mendapatkan pekerjaan.

Dua tahun menikah, keduanya dikaruniai 1 orang anak. Karena Ridwan belum mendapatkan pekerjaan yang mapan, ia bertindak sebagai ibu rumah tangga. Di samping mendidik dan mengurus anak-anaknya. Karena keduanya bersepakat untuk tidak memperkerjakan pramuwisma, Ridwan juga mengerjakan tugas menanak nasi, mencuci piring, pakaian, dan lainnya.

Dimata teman-teman sejawatnya, Ridwan dianggap sebagai suami yang tidak berwibawa, karena dianggap sebagai pecundang. Ia dianggap sebagai suami yang kalah terhadap istri.

Pada kasus di atas, bagaimana tanggapan Anda terhadap peran yang dimainkan Ridwan dan anggapan teman-teman Ridwan yang menganggap Ridwan sebagai pecundang?

  1. 6.      Kecenderungan Berkeluarga Kecil

Kecenderungan akan perkawinan yang le­bih dini, keluarga yang lebih kecil dan kehidupan yang lebih panjang anggota kedua jenis kelamin telah mendorong wani­ta untuk beralih dari peran tradisional sebagai isteri dan ibu ke peran dalam dunia kerja pada saat anak-anak tidak lagi membutuhkan pengasuhan. 

  1. 7.      Pentingnya Lambang Status

Untuk mencapai mobilitas sosial yang meningkat — suatu aspirasi yang tersebar luas dalam budaya kini — uang untuk lambang status dan pendidikan yang lebih tinggi untuk anak menjadi masalah yang tidak selalu dapat diatasi sendiri oleh kaum pria pencari nafkah. Masuknya wa­nita ke dalam pasaran tenaga kerja telah membantu mengatasi masalah tersebut. 

 

  1. 8.      Pendidikan Yang Lebih Tinggi Bagi Wanita

Dengan terbukanya kesempatan untuk pendidikan yang lebih tinggi bagi wanita di segala bidang, bahkan juga di bidang yang sebelumnya tertutup bagi mereka, wanita tidak lagi ingin menghabiskan waktu mereka dengan pekerjaan yang sesuai dengan peran tradisionalnya. Sebaliknya mereka memasuki dunia kerja dan mencapai keberhasilan, yang pada masa lampau tidak mungkin karena rin-tangan-rintangan yang ada.

Contoh Kasus:

Yulia, gadis yang mandiri dan energik. Karena terlalu fokus pada pengembangan karir, baru pada usia 32 tahun ia menikah. Suaminya, Arif bekerja sebagai konsultan kesehatan. Karena terjadi rasionalisasi perusahaan, Arif menganggur. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, Yulia yang telah memutuskan untuk berhenti bekerja sejak menikah, menarik kembali dan menetapkan untuk meneruskan karirnya.

Selama 5 tahun mereka menikah, hubungan mereka sangat harmonis. Mereka dikaruniai dua orang anak yang cerdas dan baik. Hubungan mereka berubah, sejak Yulia bekerja. Karena kesibukannya bekerja, tugas-tugas istri banyak yang terbengkalai. Yulia bahkan menjadikan Arif sebagai perempuan. Semua tugas rumahtangga diserahkan kepada Arif. Mulai dari menyiapkan sarapan pagi sampai dengan mengurus tagihan listrik. Yulia menganggap bahwa Arif sudah sepantasnya menggantikan peran ibu rumahtangga, karena Arif tidak dapat memberikan nafkah ekonomi kepada keluarga.

Arif tidak menerima perlakuan Yulia. Perbedaan paham yang semakin lama semakin membesar antara Yulia dan Arif mengenai peran suami dan istri mendorong mereka untuk melakukan perceraian.

Tugas Anda !

Apakah hubungan suami istri yang dilakukan Yulia dan Arif sudah termasuk respon terhadap persamaan peran?

 

Apakah tindakan Yulia dalam memperlakukan Arif sebagai suami dianggap sebagai ketimpangan gender?

 

Menurut Anda, seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh Yulia dan Arif dari peran-peran yang mencerminkan kesetaraan gender?

 

 

  1. 9.      Kesempatan Kerja Yang Sama

Perubahan dalam hukum dan tekanan dari pemerintah untuk membuka kesempatan kerja bagi wanita telah memungkinkan wanita memegang peranan datam dunia usaha, terutama pada tingkat atas dalam dunia bisnis, industri, dan profesi.

 

10.  Statistik Kesehatan Dan Kematian

Statistik kesehatan dan kematian telah mengungkapkan bahwa wanita yang me-lampaui usia 50 tahun atau iebih tidak le­bih banyak menderita penyakit dari pria pada usia yang sama, dan bahwa wa­nita sebagai suatu kelompok hidup lebih lama dari pria. Statistik ini telah mem­bantu menghapuskan stereotip wanita se­bagai “jenis yang lebih lemah.”

 

11.  Prestasi Wanita

Apabila diberikan pendidikan yang sama, dan kesempatan yang sama untuk menggunakan pendidikannya, serta diberikan dorongan, wanita dari semua usia sejak taman kanak-kanak hingga pensiun menca­pai keberhasilan yang sama besar seperti pria dengan pendidikan dan kesempatan yang sebanding. Dalam kegiatan akademis maupun ekstrakurikuler di sekolah dan universitas, wanita menyamai atau mele-bihi pria. Rintangan di bidang bisnis, in­dustri, dan profesi telah membatasi pres-tasi wanita di dunia orang dewasa, tetapi bila rintangan tersebut dihilangkan, prestasi wanita ternyata setaraf dengan prestasi pria.

POLA BELAJAR STRERETIP PERAN SEKS

  1. Anak perlu belajar bahwa perempuan dan wanita berbeda dalam penampilan, memakai pakaian yang berbeda dan mempunyai gaya rambut yang berbeda. Perbedaan ini telah jelas pada anak yang lebih besar, remaja dan dewasa. Perbedaan itu tidak menunjukkan apa-apa, kecuali menunjukkan bahwa mereka secara biologis berbeda.
  2. Anak perlu belajar mereka menemukan anak perempuan dan wanita melakukan hal yang berbeda-beda.
  3. Anak perlu belajar bawha wanita dan pria mempunyai kemampuan yang berbeda dan menunjukkan kemampuan ini dengan prestasi berbeda-beda.
  4. Anak belajar bahwa beberapa pola penampilan, berbicara dan perilaku tertentu sebagai sesuatu yang didasarkan atas perbedaan teaksi anggota kelompok sosial terhadap hal-hal yang dianggap sesuai dan yang tidak sesuai dengan jenis kelamin.
  5. Anak perlu belajar berbagai tingkat prestise dikaitkan dengan berbagai karakteristik dan perilaku. Bahwa ada orang yang dibayar untuk bekerja di dalam rumah dan ada orang yang dibayar untuk bekerja di luar rumah.

 

  1. 2.    Gender dalam Lembaga Pendidikan
    1. Penyusunan bahan ajar yang tidak memperhatikan kesetaraan peran kaum laki-laki dan perempuan.
    2. Pengelolaan pembelajaran yang tidak memperhatikan kontribusi yang sama diantara laki-laki dan perempuan. Guru seringkali menempatkan posisi laki-laki dan perempuan terspesialisasi berdasarkan anggapan pada potensi yang terdapat pada laki-laki atau perempuan, atau tidak mendorong siswa perempuan untuk aktif pada peran yang umum misalnya Ketua Kelas dan lain sebagainya.
    3. Perempuan memilih pendidikan yang dianggap cocok dengan karakter perempuan, padahal pendidikan terletak pada kemampuan intelegensia, bukan pada karakter.

 

  1. 3.    Gender dalam Lembaga Sosial
    1. a.      Lembaga Ekonomi

Pabrik

Pembagian kerja laki-laki dan perempuan di bidang pekerjaan didasarkan pada anggapan antara laki-laki yang kuat, cepat mengambil keputusan, dan objektif dengan perempuan yang dianggap lemah, lambar mengambil keputusan dan subjektif.

Anggapan ini membawa perempuan pada pekerjaan-pekerjaan di tingkat paling bawah, bukan karena tidak memiliki kompetensi, tetapi terpinggirkan oleh adanya anggapan laki-laki yang lebih kuat, sedangkan perempuan tidak.

Perkantoran

Kaum perempuan dianggap lemah dan subjektif dalam mengambil keputusan membuat perempuan tidak mencapai tingkat manajemen.

 

Jarang ada kaum laki-laki yang menjadi sekretaris. Pekerjaan sebagai sekretaris dianggap pekerjaan perempuan.

 

  1. b.      Lembaga Politik dan Pemerintahan

Akses perempuan untuk memasuki dunia politik karena struktur sosial (domestifikasi) yang membelanggu kaum perempuan sehingga peran perempuan dalam dunia politik berkurang.

Perempuan dianggap lebih jujur dibandingkan perempuan, sehingga kurang pandai dalam memainkan strategi politik.

  1. III.   PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI DALAM KARYA
    1. 1.    Wacana Perempuan dan Laki-Laki dalam Karya Fiksi
      1. a.      Pandangan Pramoedya Ananta Toer tentang kaum perempuan dan laki-laki (analisis teks dan nilai)
  • Sifat dan karakter perempuan dan laki-laki yang dikemukakan pengarang.
  • Pandangan positif dan negatif perempuan dan laki-laki.
  1. b.      Pandangan Romo Mangunwijaya tentang perempuan dan laki-laki (analisis teks dan nilai)
  • Sifat dan karakter perempuan dan laki-laki yang dikemukakan pengarang.
  • Pandangan positif dan negatif perempuan dan laki-laki.
  1. c.       Pandangan Ayu Utami tentang laki-laki dan perempuan (analisis teks dan nilai)
  • Sifat dan karakter perempuan dan laki-laki yang dikemukakan pengarang.
  • Pandangan positif dan negatif perempuan dan laki-laki.

dan lain sebagainya

  1. 2.    Wacana Perempuan dan Laki-Laki dalam Karya Ilmiah
    1. a.      Peran politik kaum perempuan
  • Dominasi penulis laki-laki dalam karya ilmiah menyebabkan perempuan menjadi korban subjektif kaum laki-laki.
  • Tingkat partisipasi politik kaum perempuan tinggi dalam kegiatan politik, tetapi akses untuk ikut menjadi pengambil keputusan dalam politik dipandang sebelah mata bukan karena ketidakmampuan perempuan, tetapi adanya dominasi laki-laki terhadap perempuan.
  • Kaum perempuan yang menganggap bahwa kaumnya tidak cocok dalam kegiatan politik, bukan didasarkan pada kenyataan bahwa kaum perempuan tidak memiliki kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki dalam kegiatan politik.
  • Terbukanya peluang kaum perempuan dalam kegiatan politik dan berkurangnya anggapan bahwa perempuan tidak dapat memainkan peran di bidang politik.

 

Model: Pembahasan kasus biografi: M. Allbright, Catherine de Medicine, Cut Nyak Dien, Aung San Syuki, dan lain sebagainya.

  1. b.      Peran ekonomi kaum perempuan
  • Emansipasi membuktikan perempuan dan laki-laki bisa menjalankan tugas yang sama pada tempat yang sama.
  • Perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki kemampuan mendapatkan kesempatan bekerja dan menghasilkan pendapatan.

 

Model: Pembahasan kasus biografi.

DISKUSI PEMBAHASAN KASUS

 

CONTOH KASUS 1

Dalam kenyataan, kita dapat menyaksikan bahwa laki-laki (ayah) seringkali diminta diperhatikan lebih oleh ibu (wanita) karena ayah (laki-laki) merasa bahwa kehidupan rumah tangga tidak akan berjalan tanpa peran uang yang diperoleh ayah. Sementara tugas ibu dalam membersihkan rumah (mencuci piring dan pakaian, memandikan anak, menanak nasi dan lain sebagainya) dianggap rendah tidak dihargai, singkatnya tidak dianggap sebagai sebuah pekerjaan. Bahkan terkadang ditemui, bahwa laki-laki (ayah) seringkali merasa ibu adalah istri sekaligus sebagai “buruh” yang dibayar.

Solusi dan Kesimpulan

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

CONTOH KASUS 2

Alisa dan Ahmad adala sepasang suami istri yang membangun rumah tangga selama 4 tahun. Pada tahun 2008, ada PJTKI yang menawarkan Alisa sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). Ahmad sebagai suaminya mengijinkan istrinya untuk pergi menjadi TKW. Belakangan terjadi perubahan. Kepergian istri sebagia TKW membawa dampak negatif dan dampak positif. Sebelum menjadi TKW, sebagaimana masyarakat pada umumnya, pola relasi gender lokal dengan semangat patriarki sangat dominan. Secara psikologis timbul tipologi pembagian kerja yang sekist. Fokus pekerjaan suami pada sektor publik, sementara istri pada sektor dominan karena suami meyakini nilai-nilai pemingitan. Suami berperan sebagai pencari nafkah utama, sementera istri mengurus anak dan rumah tangga.

Paska kepergiaan sebagai TKW, TKW membawa nilai-nilai baru ditambah posisi ekonomi istri yang meningkat. Secara tidak langsung dan langsung kondisi ini menaikkan posisi tawar Alisa sebagai istri di tengah keluarganya. Hal ini memberikan ruang yang cukup bagi pergeresan pola relasi gender. Pembagian kerja yang semula sangat sexis mulai kabar, artinya pekerjaan tidak selalu dikaitkan dengan jenis kelamin. Pekerjaan suami mulai terlibat dalam sektor domestik, sementara istri mulai terbuka pada sektor publik karena suami mulai mengendurkan nilai-nilai pemingitan. Suami sebagai pencari nafkah mulai melibatkan pihak istri, sementara istri yang mengurus anak dan rumah tangga mulai dibantu suami sehingga menjadi tanggungjawab bersama. Istri mulai independen dalam pengambilan keputusan sehingga posisinya yang awalnya subordinat makin kabur dan mengarah kepada posisi istri sebagai mitra.

Namun demikian, kondisi keluarga potensial mengalami konflik, relatif kurang harmonis, karena nilai-nilai baru dalam hubungan suami istri telah berubah.

Apa yang berubah?

Bagaimana seharusnya, idealnya?

Solusi dan Kesimpulan

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

CONTOH KASUS 3

Irawan adalah Manager hotel terkenal di Jakarta. Ia membutuhkan seorang sekretaris baru, karena sekretaris lama berhenti bekerja. Perusahaannya sedang melakukan program penghematan biaya, sehingga tidak diperkenankan untuk merekrut pegawai baru. Dua kandidat katakanlah A sebagai perempuan dan B sebagai laki-laki. Andaikan anda adalah seorang Irawan, siapa yang akan anda pilih, laki-laki atau perempuan, diantara karyawan lama yang akan menduduki sebagai sekretaris. Jelaskan mengapa anda memilih laki-laki atau perempuan.

Solusi dan Kesimpulan

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

CONTOH KASUS 4

Ahmad dan Dita memiliki lima (5) orang anak, 3 laki-laki dan 2 perempuan. Anak pertama dan kedua, laki-laki; anak ketiga perempuan, anak keempat laki-laki dan anak keenam perempuan. Anak pertama, Dani, sudah lulus Sarjana Kedokteran di Universitas Indonesia, sedangkan anak kedua, Ridwan dan Dina, keduanya masih berada di kelas 3 SMA. Ridwan seharusnya sudah masuk perguruan tinggi, karena tinggal kelas 1 tahun, Ridwan berada pada jenjang yang sama dengan Dina, adiknya. Pada saat lulus kuliah, kedua orang tuanya berjanji akan membiayi sekolah di Perguruan Tinggi Negeri untuk anak yang lulus SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Pada pengumuman tes SPMB, Ridwan dinyatakan tidak lulus, sementara Dina masuk ke Universitas Gajah Mada. Kedua orang tuanya, memutuskan untuk memasukkan Ridwan di Bina Nusantara. Sementara Dina ditunda dulu satu tahun setelah Ridwan. Alasan kedua orang tuanya bahwa Ridwan harus diberi kesempatan terlebih dahulu karena Ridwan, anak laki-laki. Ibunya tidak setuju terhadap keputusan ayahnya yang memaksa Dina tidak masuk Universitas Gajah Mada yang mungkin tidak bisa diambilnya tahun depan. Memang benar pada tahun depannya, Dina tidak masuk UGM, karena tidak lulus SPMB. Ia terpaksa tidak juga melanjutkan kuliah karena adik-adiknya juga masuk kuliah. Cita-cita Dina untuk jadi ahli kimia gagal sudah.

Menurut Anda, bagaimana anda menilai tindakan keluarga ini, dan bagaimana pandangan Anda terhadap masalah ini.

Solusi dan Kesimpulan

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

CONTOH KASUS 5

Dalam pandangan salah satu agama bahwa istri harus mengikuti petunjuk Suami. Rina katakanlah bersuamikan Abdul Majid. Rina ingin menjadi ibu yang produktif, ia ingin bekerja di perusahaan, karena kebetulan ia memiliki kompetensi di bidang akuntansi. Sementara itu Majid tidak mengijinkan Rina bekerja. Diskusi telah dilakukan diantara mereka berdua, tetapi Majid bersikukuh dengan alas an bahwa istri harus menuruti kehendak suami.

Bagaimana Anda menanggapi keadaan tersebut?

Solusi dan Kesimpulan

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

CONTOH KASUS 6

Sita adalah guru di sekolah dasar, ia sebagai wali kelas di kelas 5. Ia sangat berkomitmen terhadap persamaan antara peran laki-laki dan perempuan dalam pembelajaran. Jumlah murid kelas 5 berjumlah 40, 15 perempuan dan 25 laki-laki. Berdasarkan pengamatannya, siswa perempuan dinilai kurang aktif dibandingkan siswa laki-laki. Ketidakaktifan ini mempengaruhi hasil belajar. Dari laporan pendidikan, diantara peringkat sepuluh besar, hanya 1 perempuan yang masuk sepuluh besar, itupun peringkat ke-8. Sisanya tidak memiliki prestasi yang dibanggakan.

Ia ingin siswa perempuan memiliki kemampuan intelektual dan peran aktif yang sama dengan siswa laki-laki. Ia konsen terhadap permasalahan ini. Ia kemudian mendiskusikan masalah ini dengan teman sejawatnya. Berbagai masukan diantaranya adalah mendekati anak perempaun, mencari permasalahan yang ada dan melakukan tindakan.

Solusi dan Kesimpulan

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Both comments and trackbacks are currently closed.
%d blogger menyukai ini: