Falsafah:


Sabtu, 12 Desember 2009

 

(1) FALSAFAH:  BLORAKU.COM

Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman (Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).

Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha (Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan)

Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan (Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).

Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, Banter tan Mbancangi, Dhuwur tan Ngungkuli (Bekerja keras dan bersemangat tanpa pamrih; Cepat tanpa harus mendahului; Tinggi tanpa harus melebihi)

Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman (Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja).

Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo Artine Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat.

(2) Posted by herman.pamuji | Social and Culture | Thursday 21 August 2008 11:54 pm (original site by http://www.sekarjagad.org )

Falsafah Ajaran Hidup Jawa memiliki tiga aras dasar utama.
Yaitu: aras sadar ber-Tuhan, aras kesadaran semesta dan aras keberadaban manusia. Aras keberadaban manusia implementasinya dalam ujud budi pekerti luhur. Maka di dalam Falsafah Ajaran Hidup Jawa ada ajaran keutamaan hidup yang diistilahkan dalam bahasa Jawa sebagai piwulang (wewarah) kautaman.
Secara alamiah manusia sudah terbekali kemampuan untuk membedakan perbuatan benar dan salah serta perbuatan baik dan buruk. Maka peranan Piwulang Kautaman adalah upaya pembelajaran untuk mempertajam kemampuan tersebut serta mengajarkan kepada manusia untuk selalu memilih perbuatan yang benar dan baik menjauhi yang salah dan buruk.
Namun demikian, pemilihan yang benar dan baik saja tidaklah cukup untuk memandu setiap individu dalam berintegrasi dalam kehidupan bersama atau bermasyarakat.
Oleh karena itu, dalam Piwulang Kautaman juga diajarkan pengenalan budi luhur dan budi asor dimana pilihan manusia hendaknya kepada budi luhur. Dengan demikian setiap individu atau person menjadi terpandu untuk selalu menjalani hidup bermasyarakat secara benar, baik dan pener (tepat, pas).
Cukup banyak piwulang kautaman dalam ajaran hidup cara Jawa. Ada yang berupa tembang-tembang sebagaimana Wulangreh, Wedhatama, Tripama, dll. Ada pula yang berupa sesanti atau unen-unen yang mengandung pengertian luas dan mendalam tentang makna budi luhur.
Misalnya : tepa selira dan mulat sarira, mikul dhuwur mendhem jero, dan alon-alon waton kelakon.
Filosofi yang ada dibalik kalimat sesanti atau unen-unen tersebut tidak cukup sekedar dipahami dengan menterjemahkan makna kata-kata dalam kalimat tersebut.
Oleh karena itu sering terjadi ”salah mengerti” dari para pihak yang bukan Jawa. Juga oleh kebanyakan orang Jawa sendiri. Akibatnya ada anggapan bahwa sesanti dan unen-unen Jawa sebagai anti-logis atau dianggap bertentangan dengan logika umum. Akibat selanjutnya berupa kemalasan orang Jawa sendiri untuk mendalami makna sesanti dan unen-unen yang ada pada khasanah budaya dan peradabannya.
Namun kemudian, sesanti dan unen-unen tersebut dijadikan olok-olok dalam kehidupan masyarakat.

Mulat sarira dan tepa selira diartikan bahwa Jawa sangat toleran dengan perbuatan KKN yang dilakukan kerabat dan golongannya.
Mikul dhuwur mendhem jero dimaknai untuk tidak mengadili orangtua dan pemimpin yang bersalah.

Alon-alon waton kelakon dianggap mengajarkan kemalasan.
Padahal ajaran sesungguhnya dari sesanti dan unen-unen tersebut adalah pembekalan watak bagi setiap individu untuk hidup bersama atau bermasyarakat. Tujuan utamanya adalah terbangunnya kehidupan bersama yang rukun, dami dan sejahtera. Bukan sebagai dalil pembenar perbuatan salah, buruk dan tergolong budi asor. Makna dari mulat sarira dan tepa selira adalah untuk selalu mengoperasionalkan rasa pangrasa dalam bergaul dengan orang lain.

Mulat sarira, mengajarkan untuk selalu instropeksi akan diri sendiri.”Aku ini apa? Aku ini siapa? Aku ini akan kemana? Aku ini mengapa ada?” Kesadaran untuk selalu instropeksi pada diri sendiri akan melahirkan watak tepa selira, berempati secara terus menerus kepada sesama umat manusia. Kebebasan individu akan berakhir ketika individu yang lain juga berkehendak atau merasa bebas. Maka pemahaman mulat sarira dan tepa selira merupakan bekal kepada setiap individu yang mencitakan kebebasan dalam hidup bersama-sama, bukan?

Mikul dhuwur mendhem jero, meskipun dimaksudkan untuk selalu menghormat kepada orangtua dan pemimpin, namun tidak membutakan diri untuk menilai perbuatan orangtua dan pemimpin. Karena yang tua dan pemimpin juga memiliki kewajiban yang sama untuk selalu melakukan perbuatan yang benar, baik dan pener. Justru yang tua dan pemimpin dituntut ”lebih” dalam mengaktualisasikan budi pekerti luhur. Orangtua yang tidak memiliki budi luhur disebut tuwa tuwas lir sepah samun. Orangtua yang tidak ada guna dan makna sehingga tidak pantas ditauladani. Pemimpin yang tidak memiliki budi luhur juga bukan pemimpin.

Alon-alon waton kelakon, bukan ajaran untuk bermalas-malasan. Namun merupakan ajaran untuk selalu mengoperasionalkan watak sabar, setia kepada cita-cita sambil menyadari akan kapasitas diri.
Contoh yang mudah dipahami ada dalam dunia pendidikan tinggi.
Normatif setiap mahasiswa untuk bisa menyelesaikan kuliah Strata I dibutuhkan waktu 8 semester. Namun kapasitas setiap mahasiswa tidaklah sama. Hanya sedikit yang memiliki kemampuan untuk selesai kuliah 8 semester tersebut. Sedikit pula yang prestasinya cum-laude dan memuaskan. Rata-rata biasa dan selesai kuliah lebih dari 8 semester. Dengan mengoperasionalkan ajaran alon-alon waton kelakon, maka mahasiswa yang kapasitas kemampuannya biasa-biasa akan selesai kuliah juga meskipun melebihi target waktu 8 semester.

Makna positifnya mengajarkan kesabaran dan tidak putus asa ketika dirinya tidak bisa seperti yang lain. Landasan falsafahnya, hidup bukanlah kompetisi tetapi lebih mengutamakan kebersamaan.
Banyak pula kita ketemukan Piwulang Kautaman yang berupa nasehat atau pitutur yang jelas paparannya.
Sebagai contoh adalah sebagai berikut :

“Ing samubarang gawe aja sok wani mesthekake, awit akeh lelakon kang akeh banget sambekalane sing ora bisa dinuga tumibane. Jer kaya unine pepenget, “menawa manungsa iku pancen wajib ihtiyar, nanging pepesthene dumunung ing astane Pangeran Kang Maha Wikan”.

Mula ora samesthine yen manungsa iku nyumurupi bab-bab sing durung kelakon. Saupama nyumurupana, prayoga aja diblakakake wong liya, awit temahane mung bakal murihake bilahi.
Terjemahannya:
“Dalam setiap perbuatan hendaknya jangan sok berani memastikan, sebab banyak sambekala (halangan) yang tidak bisa diramal datangnya pada “perjalanan hidup” (lelakon) manusia.
Sebagaimana disebut dalam kalimat peringatan “bahwa manusia itu memang wajib berihtiar, namun kepastian berada pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Mengetahui”.
Maka sesungguhnya manusia itu tidak semestinya mengetahui sesuatu yang belum terjadi. Seandainya mengetahui (kejadian yang akan datang), kurang baik kalau diberitahukan kepada orang lain, karena akan mendatangkan bencana (bilahi).”

Piwulang Kautaman memiliki aras kuat pada kesadaran ber-Tuhan. Maka sebagaimana pitutur diatas, ditabukan mencampuri “hak prerogatif Tuhan” dalam menentukan dan memastikan kejadian yang belum terjadi.

(3) falsafah Jawa: “ngono ya ngono ning aja ngono”

“ngono ya ngono ning aja ngono”
Falsafah tersebut mengarahkan hidup orang Jawa, agar bisa menyesuaikan diri. Orang Jawa dalam bergaul berprinsip harus empan papan. Orang Jawa ( yang njawani: giek) begitu paham terhadap ajaran filosofi:(1) sing bisa angon mangsa, hendaknya dalam pergaulan bisa menempatkan ruang dan waktu. Jangan asal nyeplos (asbun) dan bertidak; (2) séjé kulit séjé anggit ( setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda), séjé uwong séjé omong ( setiap orang berbeda apa yang dikatakan, yang dipikirkan). Falsafah hidup menghargai dan mengerti terhadap orang lain, adalah sikap hidup yang bijaksana. Orang lain memiliki kejiwaan yang patut dipertimbangkan, sehingga dalam bergaul bisa karyénak tyasing sesama ( mengenakkan hati sesama).
(Dikuti dari: Falsafah Hidup Jawa oleh Suwardi Endraswara Penerbit Cakrawala, cetakan kedua Juni 2006, seijin Penulis).

Diposkan oleh Cahyo Sumunar di 19:32

Label: falsawah hidup Jawa

Ada 5 falsafah jawa yang berguna untuk kita menghadapi perjalanan
kehidupan kita.
1. Kukilo    (Burung)
2. Wanito    (Wanita)
3. Curigo    (Waspada)
4. Turonggo  (Kuda)
5. Wismo     (Rumah)

1. Kukilo (Burung)
Kebanyakan orang jawa selalu memelihara binantang peliharaan, dan
kebanyakan pula binatang peliharaan yang umum di rawat adalah burung perkutut. Karena suaranya yang bagus merdu dan menentramkan suasana.
Didalam kehidupan ini kita harus bisa mengikuti burung perkutut,
yaitu dengan selalu bersuara yang bagus untuk didengar oleh orang
lain, tidak selalu mengeluarkan suara yang bisa menyakiti hati orang lain.

2. Wanito (Wanita)
Wanita secara universal melambangkan kelembutan, cinta kasih,
perasaan sayang. Kita hidup didunia pastilah berada ditengah-tengah
manusia dan makhluk lainnya. Kita harus selalu memberikan rasa
kelembutan kita, cinta kasih kita dan rasa sayang kita kepada semua makhluk ciptaan sang Maha Kuasa.

3. Curigo (Waspada)
Didunia kita pasti tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita
beberapa detik, menit atau jam kedepan. Dengan sikap waspada ini maka kita diharapkan bisa selalu waspada akan gerak dan sega tingkah laku kita agar kejadian yang akan datang tidak menjadikan penderitaan pada diri kita sendiri. Curigo juga bisa diartikan dengan Eling terhadap Tuhan Yang Maha Esa, karena Beliau lah yang menciptakan masa lalu, masa sekarang dan masa depan kita.

4. Turonggo (Kuda)
Untuk dapat mengendalikan kuda disaat kita menungganginya, maka tali kendali yang harus kita pegang erat. Dalam kehidupan pengendalian diri akan segala nafsu dan ego harus kita kendalikan. Bukan dengan mengumbar nafsu, ego dan angkara murka.

5. Wismo (Rumah)
Rumah, setiap kali kita pergi pasti akan kembali kerumah. Dari sini diartikan kita hidup didunia ini hanya keluar sebentar dari rumah
kita yang sebenarnya, dan suatu saat pasti akan kembali ke rumah
abadi kita yaitu rumah Tuhan. Dan kita selagi didunia harus tahu apa yang akan kita bawa sebagai oleh-oleh untuk-NYA agar kita lebih disayang oleh Beliau.

Prev: Skizofrenia, jangan ada korban lagi
Next: Crocodile Hunter Steve Irwin killed 7 minutes ago

Dalam falsafah Jawa ada yang menyebut sekar rinonce atau sesanti Jawa. Dimana intinya falsafah jawa tersebut ngemot/berisi 2 hal dalam aplikasinya.
Yaitu Pituduh dan Wewaler.
Pituduh adalah bisa dikatakan sebagai pedoman/nasehat/aturan yang sebaiknya dijalankan sedangkan Wewaler adalah anjuran-anjuran yang sebaiknya dihindarkan.

Sedangkan sekar rinonce tersebut mencakup 6 pokok bahasan yaitu :

1. Kepercayaan (ketuhanan)
2. Kerohanian (kautaman bathin)
3. Laku (budhi)
4. Negara dan kebangsaan
5. Kekeluargaan
6. Keduniaan

Dalam setiap pokok bahasan terdapat pituduh & wewaler yang datang bersamaan , yang mudah-mudahan bisa sedikit saya haturkan kepada teman-teman, semoga bisa terbuka tentang arah spiritual Jawa yang sesungguhnya.

Rahayu
MasCebolang


1. Kepercayaan – Pokok Bahasan Gusti/Tuhan

by MasCebolang » Thu Sep 18, 2008 7:51 pm

[b]Pituduh :[/b]

1. Pengeran kang Maha Kuwasa iku anglimputi ana ing ngendi papan, aneng sira uga ana Pangeran.
[i]
Gusti/Tuhan itu ada dimana-mana, di dalam diri manusiapun Dia bersemayam[/i]

2. Pangeran kang Maha Kuwasa iku siji, langgeng, sing nganakade jagad sak isine ini, dadi sesembahan wong sak alam donya kabeh, panembahe nganggo carane dewe-dewe
[i]
Tuhan/Gusti itu satu adanya, yang menciptakan jagad seisinya, yang patut disembah oleh semua ciptaanNya dengan caranya sendiri-sendiri. Jadi tidak Tuhan/Gusti tidak menciptakan suatu bangsa/makluk tertentu yang tidak mengakui bangsa/makluk yang lain[/i]

3. Pengeran kang Maha Kuwasa iku nyiptakake pepesten kang ora ono sing bisa mungkurake
[i]
Tuhan/Gusti itu yang menciptakan keadaan ini tanpa bisa diinterferensi oleh siapapun, jadi semua yang tercipta pasti ada hikmahnya.
[/i]

4. Pangeran kang Maha Kuwasa iku nitahake sira lantaran bapa biyung ira, mula sira kudu ngurmati marang bapa biyungira

[i]Tuhan/Gusti itu menciptakan kita lantaran Bapa/Ibu kita , maka sudah sewajarnya kita untuk selalu menghormati Bapa/Ibu kita sebagai wakilNya[/i]

5. Ketemu Pangeran iku lamun sira tansah eling lan waspada

[i]Bila ingin bertemu dengan Gusti/Tuhan maka syaratnya adalah eling dan waspada[/i]

[b]
Wewaler :[/b]

1. Aja sira wani-wani ngaku Pangeran, senadyan kawruhira wus tumeka lan wus mangerteni sejatining “manunggaling Kawulo Gusti”

[i]Jangan pernah merasa menjadi Tuhan/Gusti meskipun anda sudah mengerti akan sarining “manunggaling Kawulo Gusti” / (ngadeg sarira tunggal) [/i]–> nanti tak jelasin di topic selanjutnya.

2. Aja dhisiki kersa

[i]Jangan mendahului karsa (keinginan yang belum terlaksana / krenteg)[/i]

3. Aja mung siro ndelok barang kang katon wae, sebab kang katon iki mung owah gingsir

[i]Jangan mengandalkan apa yang anda lihat didunia ini, karena keadaan dunia senantiasa berubah[/i]

4. Aja lali saben ari kudu eling marang Pangeranira, jalaran sejatine sira iku tansah katunggon Pangeranira
[i]
Jangan sekali-kali hidupmu melupakan Tuhan/Gusti karena Tuhan/Gusti selalu bersemayam didalam jiwa anda.[/i]


2. Karohanian – Kautaman Bathin

by MasCebolang » Thu Sep 18, 2008 7:52 pm

Wahhh tak buat Bold & italic kok gak bisa muncul ya ?..caranya bagaimana ? maklum sudah tua.

Pituduh :

1. Kahanan donya iku owah gingsir, mula aja ngungulake kasugihan lan drajatira, awit wolak-walike jaman sira isoh kisinan

Jangan menonjol-nonjolkan keduaniaan, karena yang ada dinuia pati berubah. Adakalanya anda akan malu nantinya

2. Sing sapa seneng ngrusak katentremaning liyan , sawektu bakal keweleh ing tembe

Siapa yang sering dan senang merusak ketentreman orang lain , suatu saat akan menemui kedukaan karena tindakannya (keweleh)

3. Janma iku tan kena kinira kinayangapa, mula sira aja seneng ngaku lan rumangsa bener dewe

Manusia itu serba terbatas, sehingga jangan pernah mengaku benar sendiri, karena benar itu hanya “pendapat” sedangkan yang “benar benar” itu hanya milik Pangeran/Gusti

4. Yen sira dibeciki liyan tulisen neng watu supaya ora ilang lan tansah kelingan. Yen sira gawe kabecikan marang liyan, tulisen neng lemah, supaya enggal ilang lan ora kelingan

Bila anda mendapat perlakuan yang baik dari orang lain, selalu ingat-ingatlah dalam sanubarimu. Namunbila anda memberi kebaikan pada oranglain , cepat-cepatlah lupakan dan jangan sekali-kali minta pahala.

5. Lamun sira mung seneng dialem bae, ingtembe bakal ketemu bab-bab kang kurang prayoga

Bila anda senang disanjung, dikemudian hari akan ketemu hal-hal yang tidak mengenakkan.

Wewaler :

1. Aja sira seneng gawe rusaking jalma liyan, amarga sira bakal kena siku dhendhaning Pangeran
Jangan suka menjaili oranglain, karena orang lain adalah satu derajat dengan kita sesama makluk ciptaanNya.

2. Aja sira nyacat piyandeling liyan, jalaran durung mesti yen piyandelira iku sing bener dewe

Jangan pernah meremehkan kepercayaan oranglain, karena belum tentu kepercayaan kita adalah yangpaling benar. Dimana kepercayaan/kerohanian dalam Jawa selalu berkembang seiring “laku” yang dijalani.

3. Aja wedhi kangelan, jalaran urip ing alam donya iku pancen angel

Jangan takut hidup susah, karena hidup itu memang tidak mudah

4. Aja sira mulang gething marang liyan, jalaran iku bakal nandur cecongkrahan kang ora ana uwis-uwise

Jangan suka membuat onar, karena suatu saat anda akan mendapatkan (ngunduh) onar yang tidak ada habisnya

5. Aja ngumbar hawa nepsu, lan aja melik marang darbeking liyan

Jangan mengumbar nafsu dan menginginkan yang bukan punya kita sendiri

6. Aja adigang adigung lan adiguna

Jangan pernah memamerkan keluhuran, kekuatan dan kepinteran

7. Aja drengki , aja rumangsa keprawa ngrumangsanana
Jangan dengki dan iri hati, juga jangan pernah hanya “merasa” namun cobalah untuk merasakannya sendiri

Rahayu
mas Cebolang
MasCebolang

Pandangan Pertama

Posts: 22

Joined: Fri Mar 16, 2007 1:59 pm

Location: Ngawi

Top


3. Laku – Budhi

by MasCebolang » Thu Sep 18, 2008 7:53 pm

Pituduh :

1. Ala lan becik iku dumunung ana awake dhewe

Baik dan buruk itu tergantung bagaimana kita memperlakukan menurut diri pribadi kita. Belum tentu yang baik bagi orang lain akan baik bagi kita sendiri dan belum tentu yang jelek bagi orang lain jelek bagi diri kita sendiri.
2. Ajining diiri pribadi iku dumunung ono ing lathi
Keberadaan kita ini dihargai dari cara berbicara kita

3. Yitna yuwana , lena kena

Yang eling dan waspada akan selamet sedangkan yang serampangan akhirnya akan celaka

4. Klabang iku wisane ono buntute, Kalajengkingiku wisane ono buntut-e, Yen ula iku racune dumunung ono wisane. Nanging yen wong durjana iku sakojur awake isi wisa

Kelabang itu racun-nya ada di sapit, Kalajengking racunnya ada di ekornya, Ular itu racunnya ada di bisa yang dikeluarkan lewat ludah, sedang orang yang jahat itu racunnya melimputi semua tubuhnya.

5. Mumpungenom ngudiya laku utama, sing prasaja percaya marang diri pribadi

Mumpungmasih muda, alangkah baiknnya menjalankan “laku” yang utama/baik, yang sederhana dan percaya pada diri sendiri

6. Wong linuwih iku ambeg welasan lan sugih pangapura .

Orang yang bijaksana hendaknya berlaku welas asih dan pemaaf

7. Perang marang diri pribadi iku pambudidayaning murig bisa ngracut hawa lan nepsu

Perang pada diri pribadi itu bertujuan untuk mengekang hawa nafsu

8. Ngelmu iku kelakone kanthi laku, sanadyan akeh ilmuke lamun ora tau ditangkarake lan ora digunake, ngelmu iku tanpa guna

Ilmu itu didapatkan dan sebisa-bisa dijalankan, meskipun banyak mengetahui banyak hal , namun tidak pernah dipakai/dipraktekkan, pengetahuan tadi tidak ada gunanya

9. Wong kang ora weruh tatakrama udanagara (unggah-ungguh), iku pada karo ora bisa ngrasakake rasa nem warna (legi, kecut, asin, pedes) sepet lan pait)

Orang yang tidak tahu akan sopan-santun ibarat tidak bisa merasakan 6 macam rasa dunia = manis, kecut, asin, pedas, sepet dan pahit

10. Turuten pituture wong tuwo, sok-sok ono kang migunani

Hormati dan cermati pitutur orang tua, dimana kadang mengandung petuah yang bisa bermanfaat

Wewaler :

1. Aja seneng yen dialem , aja sengit yen dicacat

Jangan suka kalo di alem dan jangan marah kalai di kritik

2. Aja lali piwulang becik

Jangan lupa pitutur luhur

3. Aja seneng slingkuh, main, madat , madon lan maido nggebyah uyah pada asine

Jangan senang main perempuan, main judi, mabuk dan tidak percaya karena selalu memandang remeh orang lain

4. Aja dadi wong pinter keblinger

Jangan mau menjadi orang pinter tapi tak tahu arah, tapi selalu percaya diri sendiri

5. Aja gampang kelu ing swara, tapi permanakna jatinining diri

Jangan mudah terbawa suara, sebelum kamu uji sendiri dengan diri pribadi

6. Aja seneng nggampangake, lan aja rumangsa bisa

Jangan suka menggampangkan persoalan, dan jangan merasa bisa disemua persoalan

Rahayu
masCebolang
MasCebolang

Pandangan Pertama

Posts: 22

Joined: Fri Mar 16, 2007 1:59 pm

Location: Ngawi

Top


by orang_utan » Thu Sep 18, 2008 8:03 pm

banyak petuah Jawa itu secara rutin disampaikan oleh orang tua saya

semula saya kira cuman common words of wisdom, ternyata akarnya dari kejawen

Suwun ‘sharing’ipun masCebloang🙂

Posts: 75

Joined: Thu Jul 24, 2008 8:19 pm

Top


4. Negara dan Kebangsaan

by MasCebolang » Thu Sep 18, 2008 8:19 pm

Pituduh :

1. Bangsa iku minangka sarana kuwating nagara, mula aja nglirwakake kabangsanira pribadi supaya antuk kanugrahan adeging bangsa kang sentosa

Nilai kebangsaan itu adalah modal dasar berdirinya negara, maka dari itu jangan pernah merendahkan martabat bangsa sendiri supaya bangsa kita tetep sentosa

2. Negara iku ora guna lamun ora duwe angger-angger minangka pikukuhing

Bangsa/Negara itu tiada guna bila tidak punya undang-undang yang mengayomi kebangsaan rakyatnya.

3. Para mudha aja ngungkurake ngudi kawruh kang nyata amrih bisa kinarya kuwating nagara, ungguling bangsa lan bisa gawe rahayuning sasama

Setiap pemuda mempunyai tugas untuk belajar ilmu demi menjaga keunggulan negara, kuatnya negara dan menjadikan negara sebagai payung keselamatan rakyatnya

4. Panguwasa pamonge praja iku kudu bisa gawe tentrem kawulane, lan ugo kudu gawe kukuhing lan tamenging praja

Penguasa/pejabat negara mempunyai tugas sebagai abdi negara yang mengemban amanat rakyat demi tercapainya keadaan aman tenteram dan menjadi perisai negara

5. Nagara kuwat iku amarga kawulane seneng uripe lan disuyudi deningliyan

Tanda dari negara yang kuat adalah , rakyatnya makmur dan dihormati dalam percaturan antar negara

6. Yen wong becik sing kuwasa, kabeh kang ala didandani, ewa dene yen ora kena disingkirake mundak nulari liyan (cuplak andeng-andeng)
Bila penguasa yang bijaksana memegang tampuk pimpinan, maka ia akan memperbaiki yang salah , namun adakalanya dia harus berani menyingkirkan yangtidak mau diperbaiki supaya tidak ngombro-ombo interferense ke lainnya

7. Perang iku becik lamun tujuwane nggayuh kamardikan nagara, naning perang iku ala lamun tujuwane kanggo ngrayah darbek liyan

Perang itu mulia bila tujuannya adalah membela negara (kemerdekaan) namun menjadi buruk bila tujuan perang adalah menjajah negara lain

8. Wajibing kawula nagara iku kudu rumangsa melu handarbeni, meli hanggondeli mulat salira hangrasa wani

Kewajiban setiap rakyat adalah selalu merasa memiliki negara ini, ikut mempertahankan dan selalu waspada untuk memajukan dan mebelanya

Wewaler :

1. Lamun sira dadi pamong nagara, aja sira demen kuwasa dewe. Jalaran yen sira ora kasinungan panguwasa maneh, ing tembe bakal ndadekake ora kajining awakira ing tengahing bebrayan. Ngelingana yen sejatine isih ana wong liya kang bisa ngalahake sira ing babagan apa bae.

Bila anda menjadi pejabat, jangan suka menggunakan kekuasaan. Karena bila kekusasan itu hilang/lepas dikemudian hari akan menjadikan anda tidak dihargai lagi. Ingatlah bahwa masih ada dan selalu ada orang lain yang pasti lebih dari anda dalam segala hal
2. Aja seneng yen lagi darbe kuwasa, serik yen lagi ora darbe panguwasa jalaran kuwi ngono ono bebendune dewe-dewe

Jangan suka/senang terperangkap dalam penggunaan kekuasaan, dan jangan sedih bila berada diluar kekuasaan, karena semua itu ada aturannya sendiri-sendiri

3. Aja mung kepingin menang dewe, nanging kudu senenga marang rerembugan kanggo njaga katentremaning praja

Jangan sering mengambil keputusan sendiri, namun musyawarahkan sebelum mengambil keputusan

Rahayu
MasCebolang

MasCebolang

Pandangan Pertama

Posts: 22

Joined: Fri Mar 16, 2007 1:59 pm

Location: Ngawi

Top


5. Kekeluargaan

by MasCebolang » Thu Sep 18, 2008 8:49 pm

Pituduh :

1. Sing sapa lali marang wong tuwane, prasasat lali marang Pangerane. Amarga Bapa Biyunira iku pinangka lantaran uripmu ing alam donya

Barang siapa lupa akan orang tua, ibarat lupa akan Tuhan/Gustinya, karena Bapa/Ibu itu adalah jalan kamu menikmati hidup didunia ini

2. Wong tuwa kang ora ngudi kabecikan sarta ora ngerti marang trapsila lan unggah-ungguh kuwi sejatine dudu panutane putra wayah

Bila sudah menjadi orang tua , hendaknya berperilaku bijaksana. Dengan tidak melupakan sopan santun dan budhi pekerti

3. Sing sapa seneng urip tetanggan, kalebu janma linuwih. Tangga iku prlu dicedhaki nanging aja ditresnani (karonsih) . Paribasan tangga iky pada karo bapa biyung

Siapa yang suka bergaul dengan tetangga, termasuk seorang yang bijaksana. Tetangga itu perlu disambangi namun jangan dicintai (birahi) . Peribahasanya bahwa tetangga itu seperti orangtuamu/keluarga sendiri

4. Anak iku minangka terusane wong tuwa, ora ana katresnane kang ngluwihi katresnane wong tuwa marang anak.

Orang tuwa akan selalu mengasihi anaknya.

5. Tresna marang mantu iku padha wae tresna marang putra, jalaran putu iku wohing katresnan putra lan mantu.

Mengasihi anak mantu itu sama saja dengan mengasihi anak sendiri, karena cucu juga akan lahir dari kasih anak dan mantu

6. Golek jodho aja mung mburu endahing warna, senadjan ayu utawa bagus, yen atine durjana ora wurung disiriki liyan

Mencari jodoh jangan hanya melihat tampangnya, selidikilah hatinya. Meskipun rupawan namun bila buruk perangainya niscaya akan dijauhi orang

Wewaler :

1. Aja wani murang tata marang wong atuamu, jalaran sira iku asale saka wongtuwamu sanadjan kayangapa wujude

Jangan berani kurang ajar kepada orang tua , karena anda ada karena andil orang tua anda , apapun wujudnya

2. Aja mung ngegungake drajat lan pangkat wong atuwamu, jalaran drajat lang pangkat iku bisa sirna sakdurunge sira warisi

Jangan mengunggulkan duniawi orang tuamu, karena mungkin sebelum kamu warisi drajat&pangkat orang tuamu sidah sirna

3. Aja menehi jeneng marang anak sing kurang pantes, jalaran jeneng sing disandang anak bakale kegawa nganti delahan

Jangan suka memberi nama andak yang kurang pantas, karena nama anak dibawa sampai ia tiada

Rahayu
masCebolang
MasCebolang

Pandangan Pertama

Posts: 22

Joined: Fri Mar 16, 2007 1:59 pm

Location: Ngawi

Top


6. Kaduniaan

by MasCebolang » Thu Sep 18, 2008 9:04 pm

Pituduh :

1. Bandha kang resik iku bandha kang saka nyambut gawe lan ora soko ngrusak liyan. Dene bandha kang ora resik iku bandha soko colongan

Harta benda yang bersih itu dihasilkan dari keringat sendiri dan tidak menyakiti orang lain. Sedangkan yang tidak bersih itu adalah hasil dari mencuri/kosupsi

2. Kadonyan kang ala iku ateges mung ngangsa-angsa golek bandha donya ora mikirake kiwa tengene, uga ira mikirake kahanan bathin

Keduniaan yang tidak bersih itu dihasilkan dari nafsu yang mengesampingkan nurani bathin dan tidak memikirkan orang lain

3. Golek bandha iku sakmadya bae, udinen katentreman njaba njero

Mencari harta itu yang sedang-sedang saja, yang diperlukan adalah kebahagiaan. Harta banyak disertai nafsu malah kadang tidak membahagiakan

4. Bandha iku bisa gawe mulya uga bisa gawe cilaka. Gawe mulya lamun barang kang becik, gawe cilaka lamun barang saka panggawe ala.

Harta benda bisa membahagiakan dan menyengsarakan. Membahagiakan bila dihasilkan dengan yang sebenarnya (olah karsa) dan menyengsarakan bila dihasilkan dari perbuatan yang kurangbaik

5. Bandha iku anane mung aneng donya, mula yen mati ora digawa

Ingatlah…bahwa harta benda itu cuma ada di dunia ini, bila meninggal tidak akan anda bawa

Wewaler :

1. Bandha iku perlu , nanging aja umuk. Drajat lang pangkat iku perlu nanging aja di pamer-pamerake. Amarga bisa mlesedake awake dewe

Harta benda itu diperlukan, namunbukan untuk diunggulkan, pangkat dan drajat itu diperlukan namun tidak untuk di sombongkan. Karena suatu saat bisa membuat kita tergelincir

2. Aja seneng marang wong kang nguja hawa nepsu marga akehing bandda driya. Jalaran bandha mau bisa gawe cilaka amarga durungmesthi bandha kang resik

Jangan suka ikut-ikutan mengumbar hawa nafsu pada orangyangpunya banyak harta. Karena belum tentu harta tersebut didapat dari hasil yang benar, yangnantinya bisa membuat anda celaka

3. Aja melik darbeking liyan

Jangan menginginkan milik oranglain

Rahayu
MasCebolang

Both comments and trackbacks are currently closed.
%d blogger menyukai ini: