Monthly Archives: Juli 2010

Saat terbaik untuk bertawakal

Oleh: Muhammad Arifin Ilham

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupi (kebutuhanmu).…” (QS At-Thalaq [65]: 3).

Jika sebuah kejadian atau peristiwa menimpa kita, maka tawakal bisa menjadi alat atau washilah untuk mengubah kejadian tersebut agar sesuai dengan harapan kita. Dalam bahasa lain, tawakal pun bisa mengantarkan kita ke sebuah ranah takdir penuh kebaikan.

Persoalannya, tawakal seperti apa yang bisa mengubah takdir kita? Sebab, tak sedikit mereka yang salah persepsi tentang pemahaman tawakal ini. Sebagian memahaminya dengan keliru, bahwa tawakal adalah pasrah secara total kepada Allah tanpa berbuat apa pun. Sebagian lainnya, menganggap tak penting soal tawakal. Yang penting bagi mereka adalah kerja keras, sehingga mereka kadang memaknai doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah hanya sebatas ritual penenang hati.

Kesalahan pemahaman ini pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW. Dikisahkan, suatu hari seorang Badui datang kepada Nabi Muhammad SAW dengan menunggang seekor unta. Sesampainya di depan masjid, orang Badui tersebut langsung masuk masjid dan membiarkan tunggangannya ini tanpa mengikatnya. Ketika ditanya oleh sahabat yang lain, ia menjawab, “Saya bertawakal kepada Allah. Saya serahkan sepenuhnya unta saya ini kepada Allah.” Mendengar itu, Nabi SAW bersabda, “Ikatlah unta itu, kemudian bertawakallah kepada Allah.”

Suatu hari, Imam Ahmad bin Hanbal beserta murid-muridnya hendak berangkat ibadah haji. Beliau lalu menyuruh murid-muridnya berkemas. Semua murid beliau mempersiapkan diri secara  fisik, mental, maupun finansial, kecuali satu murid saja yang hanya berdiam diri. Imam Ahmad pun heran dan bertanya kepada sang murid, “Kenapa kamu diam saja, tidak mempersiapkan segalanya untuk berangkat haji?”

“Aku bertawakal kepada Allah,” jawab si murid.
“Tidak. Kamu tidak bertawakal kepada Allah, tapi kamu bertawakal (bergantung) kepada kawan-kawanmu,” tanggap sang imam.

Apa yang dilakukan murid Imam Ahmad di atas seringkali menjangkiti kehidupan kita. Tawakal, menurut Imam Ahmad, bukanlah hanya berdiam diri tanpa usaha. Tawakal juga bukan kepasrahan buta tanpa upaya.

Tawakkal berarti mewakilkan atau menyilakan segala sesuatunya kepada Allah setelah upaya demi upaya termasuk ikhtiar dan doa sudah dilakukannya secara maksimal. Jika belum ada upaya, dan tak dibarengi dengan ikhtiar serta doa, maka belumlah disebut tawakal. Kini jemputlah takdir penuh kebaikan dengan tawakal kepada-Nya. Niscaya Allah cukupkan semua keperluan kita.

Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung, yang pergi di awal siang (pagi hari) dalam keadaan perut kosong (lapar) dan pulang di akhir siang (sore hari) dalam keadaan perut penuh berisi (kenyang).” (HR Ahmad, At-Tirmidzi dari ‘Umar bin Khattab RA).

Republika, 28 juli 2010

Iklan

Shalat malam:

Shalat Malam

Dari Abdullah bin Salam, Rasulullah saw. bersabda,: “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, dan shalat malamlah pada waktu orang-orang tidur, kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Imam Tirmidzi)

Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Lazimkan dirimu untuk shalat malam karena hal itu tradisi orang-orang shalih sebelummu, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, menolak penyakit, dan pencegah dari dosa.” (HR. Ahmad)

Dari Jabir ra, ia barkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya pada malam hari itu benar-benar ada saat yang seorang muslim dapat menepatinya untuk memohon kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, pasti Allah akan memberikannya (mengabulkannya); dan itu setiap malam.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan: 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”

Adapun lima keutamaan di dunia itu, ialah :

  1. Akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala macam bencana.
  2. Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.
  3. Akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh
    semua manusia.
  4. Lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.
  5. Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.

Sedangkan yang empat keutamaan diakhirat, yaitu :

  1. Wajahnya berseri ketika bangkit dari kubur di Hari Pembalasan nanti.
  2. Akan mendapat keringanan ketika di hisab.
  3. Ketika menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya dengan sangat cepat, seperti halilintar yang menyambar.
  4. Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.

Semoga kita diberi kemampuan untuk melaksanakan shalat malam.

Wallahu’alam Bisshowab.

Sumber:Republika, 4 Juli 2010

7 Perbuatan Haram dlm Bisnis:

7 Perbuatan Haram dalam Bisnis?

Republika, 2 Juli 2010

 Oleh:  A Riawan Amin

Pada prinsipnya, setiap pelaku bisnis syariah diberi kebebasan untuk mengembangkan kreativitasnya. Pintu ijtihad sangat terbuka lebar. Hal ini sesuai dengan kaidah fikih yang menyatakan bahwa menurut ketentuan asal, sesuatu itu dibolehkan, selagi belum ada dalil yang mengharamkan. (Imam Suyuti, al-Asybah wa an-Nazhair, 1/33). Secara umum, ada beberapa unsur dalam fikih muamalah yang menyebabkan suatu perbuatan atau aktivitas bisnis dapat dikategorikan haram.

Pertama, zalim. Syariah melarang terjadinya interaksi bisnis yang merugikan atau membahayakan salah satu pihak. Karena, bila hal itu terjadi, maka unsur kezaliman telah terpenuhi. “Kalian tidak boleh menzalimi orang lain dan tidak pula boleh dizalimi orang lain.” (QS Al-Baqarah [2]: 279).

Kedua, riba. Secara tegas syariah mengharamkan segala bentuk riba. “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka,jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (QS Al-Baqarah [2]: 278-279). Bahkan,Rasulullah SAW menyamakan dosa riba dengan zina. “Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan mengetahui bahwa itu adalah uang riba, dosanya lebih besar daripada berzina sebanyak 36 kali.” (HR Ahmad dari Abdullah bin Hanzhalah dan dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 3375).

Ketiga, maysir (perjudian). “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban) untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka,jauhilah perbuatan-perbuatan itu, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al-Maidah [5]: 90).

Keempat, gharar (penipuan). “Siapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami.” (HR Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hanbal, dan al-Darimi).

Kelima, risywah (suap/sogok). “Rasulullah SAW melaknat orang yang memberi dan menerima suap.” (HR Abu Daud dan at-Tirmidzi).

Keenam, haram. Dalam transaksi jual-beli, Islam mengharamkan memperjual-belikan barang-barang yang haram, baik dari sumber barang maupun penggunaan (konsumsi) barang tersebut. “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi,dan patung-patung.” Rasulullah pun ditanya, “Wahai Rasulullah, tahukah Anda tentang lemak bangkai, ia dipakai untuk mengecat kapal-kapal, meminyaki kulit-kulit,dan untuk penerangan banyak orang?” Nabi menjawab; “Tidak (jangan), ia adalah (tetap) haram ” (Muttafaq ‘Alaih).

Ketujuh, maksiat. Apa pun bentuk maksiat yang terdapat dalam proses transaksi (muamalat) merupakan hal yang diharamkan. Abu Mas’ud al-Anshari menuturkan, “Nabi SAW melarang (penggunaan) uang dari penjualan anjing, uang hasil pelacuran, dan uang yang diberikan kepada dukun.” (Muttafaq ‘Alaih).

Red: irf

E..S… A…?

Sudahkah seimbang antara emosional, spiritual dan akal kita?

Akhir-akhir ini di masyarakat kita masih banyak terjadi yang serba aneh. Apa penyebabnya? tentu banyak. Sebelum membahas lebih jauh di sini akan dijelaskan arti: emosional, spiritual dan akal?

Berdasarkan  Kamus besar bahasa Indonesia, emosional  mengandung arti menyentuh perasaan; mengharukan; dengan emosi. Spiritual  mengandung arti kejiwaan, rohani, batin, mental, moral. Akal mengandung arti daya pikir, kemampuan melihat cara-cara  memahami lingkungan.

Kembali kepada pertanyaan awal sudahkah seimbang antara emosional, spiritual dan akal?

Dan ternyata kalau kita amati apa yang  terjadi di masyarakat belum seimbang, ini baru pengamatan umum belum berdasarkan penelitian. Masih banyak orang hanya mengedepankan emosinya bila  menghadapi sesuatu masalah dan mengabaikan akalnya. Apakah itu juga karena kecerdasan spiritualnya juga lemah? Walaupun mungkin orang itu mempunyai kecerdadsan akal yang tinggi? entahlah, tapi itulah yang terjadi di masyarakat. Untuk itu diperlukan keseimbangan antara emosional, spiritual dan akal. tetapi terkadang akal dikalahkan oleh emosi. Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu pembenahan-pembenahan pada aspek spiritual.

9 langkah menjadi pemimpin org beriman:

9 langkah menjadi pemimpin org beriman

Republika, 15 Juli 2010

 Oleh: Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Menjadi pemimpin bukan semata-mata kemenangan karena terpilih, tapi lebih dari itu, sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Banyak hal yang harus diejawantah sebagai pemimpin orang beriman.

Pertama, teladan dalam ketakwaan dan paham kitabullah dan sunah (QS 65: 2). Sangat sulit disebut pemimpin jika tidak ada keteladanan dalam pencarian ridha Allah. Abu Bakar ash-Shiddiq menyeru ketika dilantik jadi khalifah, ”Jika kepemimpinanku benar menurut Alquran dan  as-sunnah , maka ikuti aku. Tapi jika salah, tinggalkan aku.”

Kedua, wara’ (berhati-hati dengan hukum Allah) dan istikamah. Tidak ada niat melabrak hukum Allah, bahkan konsisten dengan keimanan dan istikamah di jalan-Nya. (QS 41: 30-33).

Ketiga, sehat, kuat, cerdas, dan visioner. Seorang pemimpin harus punya visi dalam membangun dan menyejahterakan rakyat (QS 59: 18). Karena itu, daya tunjang kesehatan, fisik yang kuat dan kemampuan mengeksplorasi kecerdasan menjadi hal mutlak bagi seorang pemimpin. (QS 2: 247).

Keempat, ahli ibadah, zikir, tadabbur Quran, berjamaah di masjid, puasa sunah, dan ahli tahajjud. Memimpin butuh efektivitas dan kearifan. Hal ini akan didapatkan jika pemimpin itu ahli ibadah, gemar berzikir, suka membaca Alquran, kaki dibawa ke masjid, berlapar-lapar dengan puasa sunah, serta mau menyingkap selimut di waktu malam untuk bertahajud menghadap Allah. (QS 17: 79).

Kelima, tsiqah (bisa dipercaya), adil, jujur, amanah, tepat janji, tegas, dan berani. ”Sesungguhnya Allah memerintahkanmu memberikan amanah kepada yang berhak menerimanya. Jika hendak menetapkan hukum di antara manusia, berilah hukuman dengan adil ….” (QS 4: 58).

Keenam, rendah hati, merakyat, tulus mencintai rakyatnya, serta dekat dengan anak yatim piatu dan fakir miskin (QS 4: 10). ”Hendaklah rendahkan hatimu kepada orang-orang yang beriman yang mengikutimu ….” (QS 26: 215).

Ketujuh, jabatan menjadi  washilah dakwah (QS 41: 34). Kedudukannya sebagai pemimpin bukan sebagai kehormatan, tetapi untuk kepentingan dakwah, yaitu mengajak umat dan rakyat makin dekat dengan Allah.

Kedelapan, sangat mendengar nasihat ulama, siap dikritik, terus belajar, dan tidak mudah tersinggung apalagi marah (QS 11: 88).

Terakhir, selalu berdoa untuk rakyatnya disertai tawakkal yang kuat. Indah sekali jika ada pemimpin, di siang hari ia berjibaku melayani rakyat, sedangkan malamnya ia tahajjud lalu mengangkat tangan dan berserah diri kepada-Nya. ”Maka jika kamu telah bertekad mengerjakan sesuatu (setelah berusaha) maka serahkan kepada Allah ….” (QS 3: 159). Wa Allahu a’lam.

5 Pelajaran hidup dari sang lebah?

 5 pelajaran hidup dari sang Lebah?

Republika, 26 Juni 2010

 Oleh: Wahyudin Wahid

Lebah adalah binatang kecil yang terukir indah dalam Alquran. Allah mengabadikan namanya pada salah satu surah dalam Alquran, yakni Annahl. Tentu, ada keistimewaan yang dimiliki hewan ini hingga namanya termaktub dalam kitab yang suci dan mulia. Lihat surah Annahl [16] ayat 68-69.

Lebah diciptakan Allah SWT dengan banyak memberi manfaat bagi manusia. Di antara manfaatnya adalah madu. Tak hanya itu, perilaku hewan kecil ini harusnya menjadi cerminan akhlak bagi Muslim sejati.

Perhatikanlah kehidupannya. Ada banyak manfaat yang bisa diambil hikmahnya dari lebah. Pertama, lebah hanya menghisap saripati bunga. Ia hanya mengambil yang inti dan membiarkan yang lain. Lebah tahu, yang menjadi kebutuhannya hanyalah saripati, bukan yang lainnya. Ini mengajarkan bahwa setiap Muslim harus mengambil sesuatu yang baik dan halal. Sebab, mengambil hak yang lain hukumnya adalah haram.

Kedua, lebah menghasilkan madu. Ia memberi manfaat bagi manusia. Ini pelajaran bagi umat Islam. Madu berasal dari saripati bunga dan baik, maka keluarnya pun baik. Sesuatu yang halal, keluarnya halal pula. Dan, ia banyak memberi manfaat bagi orang lain.

Ketiga, lebah tidak merusak. Di mana pun dia hinggap, tak ada tangkai daun ataupun ranting pohon yang patah. Betapa santunnya hewan kecil ini hingga dalam bergaul dia tidak menyakiti siapa pun dan senantiasa menjaga kedamaian dalam setiap suasana. Lebah senantiasa memegang prinsip iffah (ketenteraman) dalam pergaulan.

Keempat, lebah punya harga diri. Ia tidak akan pernah mengganggu orang lain selama kehormatan dan harga dirinya dihormati. Namun, bila harga dirinya dizalimi, ia akan siap ‘menyengat’ pengganggunya. Karena itu, setiap Muslim harus mampu menjaga kehormatan dirinya.

Sudah sepatutnya kita belajar ilmu dari lebah. Bukan karena fisik dan pesonanya yang kurang menarik, tapi karena komitmennya dalam bersikap dan berbuat. Manusia memiliki kemuliaan dari makhluk lain. Namun, tingkah laku dan kehormatan manusia bisa lebih hina dari binatang.

Allah memberikan pelajaran bagi manusia untuk mengambil hikmah dari lebah. Ia makhluk kecil yang memberikan manfaat sangat besar bagi manusia. Tentunya, tak hanya dari lebah, setiap hamparan yang ada di alam semesta ini diciptakan oleh Allah SWT untuk kebutuhan manusia. Maka, bisakah kita mengambil pelajaran? Wallahu A’lam.

 Sumber: dikopi dr, republika,26 Juni 2010