Monthly Archives: Agustus 2010

Langkah-langkah menjaga hati:

Republika, 27 Juli 2010

Oleh: Arif Munandar Riswanto

Hati dalam bahasa Arab disebut dengan al-qalb, yang berarti bolak-balik. Disebut demikian, karena hati adalah dunia abstrak (closed area), unik, dan berkembang (developmental). Hati gampang berubah, sukar dibaca, senantiasa berkembang, dan pasang-surut.

Karena memiliki sifat seperti itu, maka hati harus dijaga dengan baik. Sebab, jika tidak dijaga, hati akan berubah menjadi hati yang sakit (al-qalb al-maridh). Begitu banyak manusia yang memiliki pikiran cerdas, tetapi akhirnya menjadi orang hina hanya karena memiliki hati yang sakit.

Rasul bersabda, “Dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya; dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, itulah hati.” (Al-Hadis).

Kecerdasan yang ada di dalam pikiran, bisa dikalahkan oleh kebusukan yang ada di dalam hati. Orang seperti itu biasanya akan marah pada kebenaran dan senang pada kebatilan. Dan, jika hal tersebut terjadi, maka itulah hati  sedang sakit. Sama seperti anggota tubuh lainnya, hati yang sakit bisa dilihat dari tiga hal. Pertama, kemampuan indera yang ada di dalam hati akan hilang secara total. Hati seperti ini akan menjadi buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Ia tidak bisa membedakan antara kebenaran, kesesatan, ketakwaan, kemaksiatan, dan lain sebagainya.

Kedua, kemampuan indera yang ada di dalam hati menjadi lemah. Padahal sebenarnya, kemampuan indera tersebut kuat. Sama seperti anggota tubuh lainnya, jika sedang dalam keadaan seperti ini, hati berarti butuh asupan gizi.

Ketiga, hati tidak bisa melihat sesuatu dalam bentuk yang sebenarnya. Seperti melihat kebenaran menjadi kesesatan, kesesatan menjadi kebenaran, merasakan manis menjadi pahit, dan pahit menjadi manis.

Lalu, bagaimana menjaga hati agar tetap sehat? Ibnul Qayyim menjelaskan, agar hati bisa tetap sehat, ia bisa dilakukan dengan tiga cara; menjaga kekuatan hati, melindungi hati dari hal-hal yang membahayakan, dan membuang zat-zat yang berbahaya bagi hati. Kekuatan hati bisa didapatkan dengan iman. Dan iman merupakan sumber kekuatan hati paling utama. Jika iman hilang, hati akan menjadi sakit.
 
Sedangkan untuk melindungi hati dari hal-hal yang membahayakan, bisa dilakukan dengan menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Sebab, kedua hal ini yang dapat membuat hati menjadi sakit. Ia sama dengan racun yang jika dikonsumsi pasti akan membahayakan tubuh.

Terakhir, agar tetap sehat, zat-zat yang membahayakan hati harus dibuang. Dan, cara paling efektif untuk membuang zat-zat yang berbahaya tersebut adalah dengan tobat dan istighfar. Tobat dan istighfar adalah dua obat yang bisa membuang toksin di dalam hati. Ia bagaikan antibody yang bisa membuat hati tetap sehat.

Iklan

160 kebiasaan-kebiasaan Nabi s

160 Kebiasaan Nabi Muhammad saw.[ diintisarikan dari buku tulisan: Abduh Zulfidar A.]

 1. Selalu shalat sunnah Fajar/qabliyah Subuh

2. Meringankan shalat sunnah Fajar

3. Membaca surat Al-Ikhlas dan Al-Kafirun dalam shalat Fajar

4. Berbaring sejenak setelah shalat sunnnah Fajar

5. Mengerjakan shalat sunnah di rumah

6. Selalu shalat sunnah 4 rakaat sebelum zhuhur

7. Mengganti dengan 4 rakaat setelah zhuhur jika tidak sempat shalat sebelumnya

8. Shalat sunnah 2 atau 4 rakaat sebelum ‘asar

9. Shalat sunnah 2 rakaat sesudah Maghrib

10.  Shalat sunnah setelah Isya’

11.  Mengakhirkan shalat Isya’

12.  Memanjangkan rakaat pertama dan memendekkan rakaat kedua

13.  Selalu shalat malam

14.  Gosok gigi ketika bangun malam

15.  Membuka shalat malam dengan 2 rakaat ringan

16.  Shalat malam 11 rakaat

17.  Memanjangkan shalat malam

18.  Membaca surat Al-A’la, Al-Kafirun dan Al Ikhlas dalam shalat witir

19.  Mengganti shalat malam di siang hari jika berhalangan

20.  Shalat Dhuha 4 rakaat

21.  Tetap duduk hingga matahari bersinar setelah shalat subuh

22.  Meluruskan shaf sebelum mulai shalat jama’ah

23.  Mengangkat kedua tangan saat takbiratul ihram,akan ruku’ dan bangun dari ruku’

24.  Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri

25.  Mengarahkan pandangan ke tempat sujud

26.  Merenggangkan kedua tangan ketika sujud hingga tampak ketiak putih

27.  Memberi isyarat dengan jari telunjuk ketika tasyahud dan mengarahkan pandangan ke arah jari telunjuk

28.  Meringankan tasyahud pertama, cukup hingga asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhuu wa rasuuluh

29.  Meringankan shalat jika berjamaah

30.  Menghadap ke arah kanan makmum selesai shalat jamaah

31.  Bersegera ke masjid begitu masuk waktu shalat

32.  Selalu memperbarui wudhu setiap kali akan shalat

33.  Tidak menshalatkan jenazah yang masih berhutang

34.  Menancapkan tombak sebagai pembatas jika shalat di tanah lapang

35.  Mengajari shalat kepada orang yang baru masuk islam

Bab 2: Kebiasaan-kebiasaan nabi saw pada hari Jum’at dan dua hari raya

36.  Membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan dalam shalat subuh di hari Jumat

37.  Memotong kuku dan kumis setiap ari Jumat

38.  Mandi pada hari Jum’at

39.  Memakai pakaian terbaik untuk shalat Jum’at

40.  Memendekkan khutbah Jum’at dan memanjangkan shalat

41.  Serius dalam khutbahnya dan tidak bergurau

42.  Duduk di antara 2 khutbah Jum’at

43.  Membaca surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah dalam shalat Jum’at

44.  Shalat sunnah setelah Jum’at

45.  Tidak langsung shalat sunnah setelah Jm’at

46.  Mandi sebelum shalat Id

47.  Memakai pakaian terbaik ketika shalat Id

48.  Makan dahulu sebelum berangkat shalat ‘Idul Fitri

49.  Baru makan sepulang dari shalat Idul Adha

50.  Shalat Id di tanah lapang

51.  Mengajak semua keluarganya ke tempat shalat Id

52.  Memperlambat pelaksanaan shalat Idul Fitri dan mempercepat pelaksanaan shalat Idul Adha

53.  Langsung shalat Id tanpa adzan dan iqamat

54.  Dua kali khutbah dengan diselingi duduk

55.  Pergi dan pulang melalui jalan yang berbeda

56.  Berjalan kaki menuju tempat shalat Id

57.  Membaca surat Qaaf dan Al-Qamar dalam shalat Id

58.  Menyembelih hewan kurban di tempat pelaksanaan shalat Id

Bab III: Masalah Puasa

59.  Puasa dan berbuka secara seimbang

60.  Berbuka puasa sebelum shalat Maghrib

61.  Berbuka dengan korma

62.  Tetap puasa meskipun bangun dalam keadaan junub

63.  Berpuasa jika tidak mendapatkan makanan di pagi hari

64.  Membatalkan puasa sunnah jika memang ingin makan

65.  Banyak puasa di bulan Sya’ban

66.  Puasa 6 hari syawal

67.  Puasa hari arafah:

a. Puasa Asyura       : puasa tanggal 10 Muharam

b. Puasa 10 hari        : 10 hari bulan Dzulhijjah

c. Puasa arafah       : puasa tanggal 9 Dzulhijjah          

68.  Puasa Asyura / 10 Muharam

69.  Puasa hari Senin dan Kamis:

  1. Amal-amal dilaporkan pada hari Senin dan Kamis[HR At-Tirmidzi]
  2. Hari Senin : hari lahir, hari diutus, Al-Qur’an diturunkan

70.  Puasa tanggal 13, 14 dan 15 H.

71.  Mencium istri di siang hari

Bab 4: Kebiasaan-kebiasaan Nabi saw di bulan Ramadhan

72.  Memperbanyak sedekah

73.  Memperbanyak membaca Al-Quran

74.  Mengakhirkan waktu sahur

75.  Puasa wishal: puasa tanpa berbuka

76.  Memperbanyak shalat malam

77.  I’tikaf: diam dan tinggalnya seorang muslim dalam keadaan suci di masjid

78.  Menghidupkan sepuluh malam terakhir dan membangunkan keluarganya: shalat malam, baca Al-Quran, dzikir, berdoa

79.  Menyuruh para sahabat agar bersungguh-sungguh mencari Lailatur Qadar[malam kemuliaan

Bab 5: Makan dan Minum

80.  Tidak pernah mencela makanan

81.  Tidak, makan sambil bersandar

82.  Makan dan minum dengan tangan kanan

83.  Makan dengan 3 jari

84.  Menjilati jari-jari dan tempat makan

85.  Mengambil nafas 3x ketika minum

86.  Minum dengan duduk dan berdiri

87.  Mulai makan dari pinggir tempat makan

88.  Berdo’a sebelum dan sesudah makan

89.  Tidak pernah kenyang 2 hari berturut-turut

90.  Tidak pernah makan di depan meja makan

Bab 6: Kebiasaan-kebiasaan Nabi saw dalam tidurnya

91.  Tidur dalam keadaan suci [wudhu]

92.  Tidur di atas bahu sebelah kanan

93.  Meletakkan tangan di bawah pipi

94.  Meniup kedua tangan dan membaca doa lalu mengusapkannya ke badan

95.  Tidak suka tidur sebelum Isya’

96.  Tidak pada awal malam dan bangun di sepertiga akhir

97.  Berwudhu dulu jika akan tidur dalam keadaan junub

98.  Berdoa sebelum dan setelah bangun tidur

99.  Membaca doa jika terjaga dari tidur

100. Tidur matanya namun tidak tidur hatinya

101. Menyilangkan kaki jika tidur di masjid

102. Tidur hanya beralaskan tikar

103. Tidak menyukai tidur tengkurap

Bab 7: Kebiasaan-kebiasaan Nabi saw dalam bepergian

104,Berlindung kepada Allah dari beban perjalanan jika hendak bepergian

105. Senang bepergian pada hari Kamis

106. Senang bepergian pada pagi hari

107. Menyempatkan tidur dalam perjalanan di malam hari

108. Melindungi diri / menjauh jika buang hajat

109. Berada di barisan belakang saat bepergian

110. Bertakbir 3x ketika telah berada di atas kendaraan

111. Bertakbir saat jalanan naik dan bertasbih saat jalanan menurun

112. Berdoa jika tiba waktu malam

113. Berdoa jika melihat fajar dalam perjalanan

114. Berdoa jika kembali dari bepergian

115. Mendatangi masjid terlebih dahulu saat baru tiba dan shalat 2 rakaat

116. Mengundi istri-istrinya jika bepergian

117. Menjamak shalat dalam bepergian

118. Shalat di atas kendaraan

119. Menghadap ke arah kiblat terlebih dahulu jika shalat di atas kendaraan

120. Mendoakan orang yang ditinggal pergi

121. Mendoakan orang yang akan bepergian

122. Memberi bagian tersendiri kepada orang yang diutus pergi

Bab 8: Kebiasan-kebiasaan Nabi saw dalam dzikir dan doa

123. Senang berdoa dengan doa yang ringkas

124. Membaca istighfar3x dan berdzikir selepas shalat

125. Membaca istighfar 70x s.d. 100x setiap hari

126. Membaca shalawat dan salam atas dirinya jika masuk dan keluar dari masjid

127. Membaca doa di pagi dan sore hari

128. Membaca doa di akhir majlis:

Subhaanakallahumma wa bihamdik, asyahadu alla ilaaha illaa anta,astaghfiruka wa atuubu ilaik

129. Membaca doa saat keluar rumah

130. Berdoa jika masuk dan keluar kamar kecil

131. Berdoa jika memakai pakaian baru

132. Berdoa jika merasa sakit: baca Al-ikhlas, Falaq, annas

133. Berdoa jika melihat bulan

134. Memanjatkan doa di saat sulit

135. Berdoa jika takut pada suatu kaum dan saat bertemu musuh

136. Berdoa jika bertiup angin kencang

Bab 9: Pernik-pernik kebiasaan Nabi saw

137. Selalu mengingat Allah di setiap waktu

138. Mengulangi perkataan hingga 3x dan bicara dengan suara yang jelas

139. Selalu mendahulukan yang kanan

140. Menutup mulut dan merendahkan suara apabila bersin

141. Tidak menolak jika diberi minyak wangi

142. Tidak pernah menolak hadiah

143. Selalu memilih yang lebih mudah

144. Bersujud syukur jika mendapat kabar gembira

145. Bersujud tilawah jika membaca ayat sajdah:

  1. Al-a’raf     : 206
  2. Ar-Ra’ad  : 15
  3. An-Nahl    : 49
  4. Al-Israa’   : 107
  5. Maryam   : 58
  6. Al-Hajj       : 18
  7. Al-hajj       : 77
  8. Al- Furqan            : 60
  9. An-Naml   : 25
  10. As-sajdah : 15
  11. Shad         : 24
  12. Fushilat     :37
  13. An-Najm   : 62
  14. Al-Insyiqaq          : 21
  15. Al-‘alaq    :19

Caranya: – takbir lalu sujud

–          Tanpa tasyahud dan salam

146. Tidak datang ke rumah pada waktu malam melainkan pagi dan sore hari

147. Tidak suka berbincang-bincang setelah ‘Isya

148.  Tidak senang menyimpan harta dan selalu memberi jika ada yang meminta

149. Mengulang salam hingga 3x

150. Turut mengerjakan pekerjaan rumah

151. Pergi ke masjid Quba setiap sabtu

152. Sangat marah jika hukum Allah dilanggar namun tidak marah jika dirinya disakiti [lihat Qs,Ali Imran:134 dan Asy syura:43]

153. Berubah warna mukanya jika tidak menyukai sesuatu

154. Memilih waktu yang tepat dalam menasihati

155. Tidak bohong dalam bergurau

156. Berdiri apabila melihat iringan jenazah

157. Baru mengangkat pakaian jika telah dekat dengan tanah saat buang hajat

158. Buang air kecil dengan jongkok

159. Bermusyawarah jika membicarakan suatu masalah yang penting

160. Menyuruh istrinya agar memakai kain jika ingin menggaulinya

                                               ooo0000ooo

Resepsi yg ideal ?

(republika, 28 Juni 2010)

Resepsi pernikahan atau walimah merupakan tradisi yang telah diajarkan Rasulullah SAW kepada umatnya. Perintah untuk menggelar waliwah disampaikan Nabi Muhammad SAW ketika putrinya, Fatimah RA dipinang Ali bin Abi Thalib RA. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya pada perkawinan harus diadakan walimah”. Di era sekarang ini, resepsi pernikahan diselenggarakan umat Muslim dengan beragam cara. Ada yang menggelar walimah secara sederhana di rumah dan ada pula yang melakukan walimah di gedung bahkan hingga di hotel berbitang lima yang menghabiskan dana sampai puluhan miliar rupiah. Agar sebuah walimah atau resepsi pernikahan tak terjerembab ke dalam perkara yang dilarang, ajaran Islam telah menetapkan adab dalam menyelenggarakan walimah. Syekh Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada dalam Mausuu’atul Aadaab al-Islaamiyyah, mengungkapkan, adab atau tata cara walimah atau resepsi pernikahan berdasarkan syariat Islam.

Pertama, kata Syekh as-Sayyid Nada, hendaknya sebuah walimah diselenggarakan dengan niat yang benar. “Niatkan walimah itu sebagai sunah Rasulullah SAW dan memberi makan orang-orang,” tutur nya. Sesuatu yang diniatkan dengan baik akan menjadi amal saleh. Sehingga, harta yang dibelanjakan dan waktu yang diluangkan akan diganti dengan pahala.

Kedua, membuat dan menyediakan hidangan yang sesuai dengan kemampuan. Menurut Syekh as Sayyid Nada, seoarng tuan rumah tak perlu memberatkan diri di luar batas kemampuannya untuk menyediakan hidangan bagi para undangan. Kesederhanaan dalam menyelenggarakan walimah telah dicontohkan Rasulullah SAW. Ketika memiliki rezeki, Rasulullah SAW menyembelih kambing sebagai sumber hidangan. Namun, saat tak memiliki apa-apa, walimah pun digelar sesuai kemampuan. Semua contoh berwalimah sesuai kemampuan itu dijelaskan dalam hadis. Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, ia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW mengadakan walimah untuk Zainab, yang tidak pernah diadakan untuk istri-istri beliau lainnya, dan beliau menyembelih seekor kambing.” Namun, saat mengadakan walimah dengan Shafiyyah binti Huyay RA, Rasulullah SAW tak menyembelih apapun. Menurut Anas RA, Nabi SAW pernah menginap tiga hari di suatu tempat antara Khabir dan Madinah untuk menyelenggarakan perkawinan dengan Shafiyah. Rasulullah SAW lalu mengundang kaum Muslimin untuk menghadiri walimahnya. Dalam walimah itu para undangan tak disuguhi roti maupun daging. Hidangan yang disajikan bagi para tamu undangan hanyalah kurma kering, gandum dan minyak samin. Hal ini dijarkan Rasullah untuk menghindarkan umat Islam terjerat dari utang, karena memaksakan diri mengadakan walimah di luar batas kemampuan.

Ketiga, seorang Muslim yang mengadakan walimah hendaknya mengundang karib kerabat, tetangga dan rekan-rekan seagama. Menurut Syekh as-Sayyid Nada, mengundang karib kerabat dalam acara walimah akan mempererat tali silaturahim. Sedangkan, mengundang tetangga dapat mendatangkan kebaikan. “Selain itu, mengundang rekanrekan seagama akan melanggengkan kasih sayang dan menambah rasa cinta,” papar ulama terkemuka itu.

Keempat, Rasulullah SAW mengingatkan agar seorang Muslim tak hanya mengundang orang-orang kaya saja. Nabi menekankan agar saat walimah orang miskin pun harus diundang. Syekh as-Sayyid Nada, menuturkan, meninggalkan atau melupakan orang miskin dari sebuah walimah bukanlah ajaran Islam. Mengabaikan orang-orang miskin, kata dia, dapat mematahkan hati mereka. Sehingga, mereka yang mengadakan walimah namun mengabaikan orang miskin dicap Islam sebagai orang-orang yang sombong. Bahkan, hidangan walimah yang mengabaikan orang fakir dan miskin disebut Nabi SAW sebagai makanan paling buruk. Rasulullah SAW bersabda, “Seburuk-buruknya hidangan adalah makanan walimah, yang diundang untuk menghadirinya hanyalah orang-orang kaya, sedangkan orang-orang fakir tidak diundang…” (HR Bukhari-Muslim). Kelima, Rasulullah mengajarkan agar sebuah acara walimah tak diselenggarakan secara berlebih-lebihan. Dalam Alquran surat al-A’raaf, Allah SWT berfirman, “… Dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Saat ini, kata Syekh as-Sayyid Nada, begitu banyak orang yang menggelar walimah secara berlebih-lebihan. Bahkan ada yang menggelar walimah sampai menghabiskan uang berpuluh bahkan ratusan miliar rupiah. “Berbangga-bangga dan pamer di hadapan manusia untuk menjaga kedudukan dan gengsi, merupakan bentuk mengkufuri nikmat Allah SWT,” paparnya. Alangkah baiknya, jika kelebihan itu diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Keenam, sebuah acara walimah tak boleh berisi perkara munkar. Menurut dia, jika undangan sebuah walimah berisi perkara-perkara munkar, maka wajib bagi yang diundang untuk tidak menghadirinya. Ketujuh, wajib mendatangi undangan bagi yang diundang. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian diundang ke walimah, hendaklah ia mendatanginya.” (HR Bukhari dan Muslim). Begitulah, Islam mengajarkan adab walimah.

Shalat Juma’t dgn sedikit ma’mum, apa hukumnya?

 

Shalat Juma’t dgn sedikit ma’mum, apa hukumnya?

Republika, 26 Juni 2010

 REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Setiap Muslim laki-laki diwa jibkan menunaikan shalat Jumat secara berjamaah pada waktu Zuhur. Kewajiban shalat Jumat itu tercantum dalam Alquran dan Hadis. Allah SWT berfirman dalam Alquran surah Al-Jumu’ah ayat 9, “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (QS 62: 9).

Rasulullah SAW pun menegaskan kembali kewajiban itu dalam hadisnya. Nabi SAW bersabda, “Hendaklah orang-orang itu berhenti dari meninggalkan shalat Jumat atau kalau tidak, Allah akan menutup hati mereka kemudian mereka akan menjadi orang yang lalai.” (HR. Muslim).

Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW bersabda, “Shalat Jumat itu wajib bagi tiap-tiap Muslim, dilaksanakan secara berjamaah terkecuali empat golongan, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak kecil dan orang yang sakit.” (HR Abu Daud dan Al-Hakim) Berdasarkan hadis di atas, shalat Jumat harus dilakukan secara berjamaah. Lalu berapa jumlah minimum jamaah yang harus menunaikan shalat Jumat? Terlebih di Indonesia banyak desa yang terpencil yang jumlah penduduk Muslim-nya kurang dari 40 orang. 

Apa hukumnya jika jamaah shalat Jumat kurang dari itu? Pertanyaan seperti itu kerap dilontarkan umat Muslim di Indonesia. Guna menjawab pertanyaan itu, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dan ulama Nahdlatul Ulama (NU) telah menetapkan fatwa terkait hukum shalat Jumat yang jamaahnya kurang dari 40 orang.

Dalam fatwanya, ulama Muhammadiyah menegaskan bahwa jumlah jamaah shalat Jumat minimal 40 orang termasuk masalah khilafiyah (tak ada kesepakatan) di kalangan mazhab, sebagai syarat sahnya shalat Jumat. “Ulama Hanafiyah mensyaratkan sahnya shalat Jumat adalah tiga orang jamaah, selain imam,” ungkap fatwa Muhammadiyah itu. Menurut Mazhab Hanafiyah, meski yang mendengarkan khutbah Jumat hanya seorang saja dan saat melangsungkan shalat, makmum berjumlah tiga orang adalah sah.

Sedangkan, menurut Malikiyah, jamaah shalat Jumat itu paling sedikit 12 orang, selain imam. Mazhab ini berpendapat, seluruh anggota jamaah shalat Jumat itu haruslah orangorang yang berkewajiban melakukan nya. “Tidak sah kalau di antara 12 jamaah itu, salah satunya terdapat wanita atau musafir atau anak kecil,” tutur fatwa itu.

Sedangkan ulama Syafi’iyah dan Hambaliyah mensyaratkan shalat Jumat itu harus terdiri dari 40 jamaah, bahkan sebagian ulama Hambaliyah mengharuskan 50 jamaah. Menurut ulama Muhammadiyah perbedaan pendapat soal jumlah minimal jamaah Jumat itu didasarkan pada arti kata jamak “cukuplah tiga”, dan ada pula yang mendasarkan pada riwayat Jabir.

Jabir mengungkapkan bahwa berdasarkan sunah yang telah berjalan, kalaau terdapat 40 orang atau lebih, dirikanlah shalat Jumat. Namun, AlBaihaqi menyatakan bahwa riwayat Jabir itu tak bisa dijadikan hujjah. Ada pula riwayat Ka’ab bin Malik yang menyatakan bahwa shalat Jumat pertama di Baqi dikerjakan oleh 40 orang. Menurut ulama Muhammadiyah, dalam riwayat itu tak ditegaskan jumlah minimal jamaah shalat Jumat, namun hanya menceritakan jumlah orang yang menunaikan Jumat pertama.

“Yang jelas bahwa shalat Jumat itu sebagaimana disepakati ulama harus dilakukan secara berjamaah,” ungkap Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Hal itu didasarkan pada hadis riwayat Abu dawud dari Thariq bin Syihab. “Mengenai batas minimum tak disebutkan dalam hadis, sehingga melangsungkan shalat Jumat tidak dibatasi jumlah minimal dan maksimalnya, yang penting berjamaah,” demikian fatwa ulama Muhammadiyah untuk menjawab pertanyaan yang kerap bergulir di kalangan umat.

Lalu bagaimana ulama NU menanggapi masalah ini? Masalah ini telah dibahas dalam Muktamar ke-4 NU di Semarang pada 19 September 1929. Dalam fatwanya, ulama NU menyatakan, jika jumlah jamaah pada sebuah desa kurang dari 40 orang, maka mereka boleh bertaklid kepada Abu Hanifah. “Dengan ketentuan harus menunaikan rukun dan syarat menurut ketentuan Abu Hanifah. Tetapi lebih utama supaya bertaklid kepada Imam Muzan dari golongan Mazhab Syafi’i,” demikian kesepakatan ulama NU terkait masalah jumlah minimal jamaah shalat Jumat.

Selaian itu, ulama NU juga membolehkan penyelenggaraan shalat Jumat di kantor-kantor. Syaratnya, shalat Jumat itu diikuti oleh orang-orang yang tinggal menetap sampai bilangan yang menjadi syarat sah-nya shalat Jumat terpenuhi dan dilakukan secara rutin, bukan pada waktu tertentu saja. Selain itu, tidak terjadi penyelenggaraan Jumat lebih dari satu.