Monthly Archives: Oktober 2010

Kisah Masjid Dibangun Satu Malam

Masjid yang berdiri sejak tahun 1600 itu, mempunyai nilai historis tersendiri.

Rabu, 11 Agustus 2010, 11:05 WIB

Eko Priliawito

 Masjid Al Alam di Marunda Jakarta Utara (jakarta.go.id)

// VIVAnews – Ada ratusan tempat ibadah umat islam di Jakarta merupakan bangunan tua, bahkan umurnya lebih dari empat abad. Salah satu yang paling tua adalah Masjid Al-Alam, di Kampung Marunda Pulo RW 07 Marunda, Cilincing, Jakarta Utara.

Masjid yang berdiri sejak tahun 1600 itu, mempunyai nilai historis tersendiri. Lokasi Masjid yang berada persis di pesisir pantai Marunda merupakan salah satu 12 obyek destinasi wisata pesisir di Jakarta Utara.

Konon Masjid Al Alam (Al Auliya) Marunda, dibangun hanya dalam tempo semalam. Banyak kisah heroik muncul dari masjid ini, di antaranya Si Pitung.

Kedatangan para peziarah dari berbagai daerah, tidak lepas dari keistimewaan sejarah Masjid Al Alam yang konon dibangun oleh Walisongo.

“Masjid ini dibangun Walisongo dengan tempo semalam, saat menempuh perjalanan dari Banten ke Jawa,” kata M. Sambo bin Ishak, wakil ketua Masjid Al Alam. “Karena itu, nama asli masjid ini Al Auliya, masjid yang dibangun para wali Allah,” lanjutnya.

Sementara di tempat terpisah, tokoh Betawi, Alwi Shahab, mengatakan bahwa pendiri masjid Al Alam adalah Fatahilah dan pasukannya pada tahun 1527 M, setelah mengalahkan Portugis di Sunda Kelapa.

Ada keyakinan di masyarakat Marunda, bahwa Fatahillah membangun Masjid Al-Alam hanya dalam sehari. Meski berbeda pendapat, baik Sambo dan Alwi Shahab mengatakan hal yang sama bahwa Masjid Al Alam dibangun hanya dalam tempo semalam, meski pijakan alasan keduanya berbeda.

Berangkat dari tempo pembangunan itu, tidak mengherankan bila masjid yang ukurannya mirip musalah itu menjadi istimewa bagi masyarakat Marunda khusunya, dan umat Islam umumnya. Terlebih bila mengingat bahwa Masjid Al Alam juga sarat nilai sejarah perlawanan terhadap penjajah.

Seratus tahun kemudian (1628-1629), lanjut Alwi Shahab, ketika ribuan prajurit Mataram pimpinan Bahurekso menyerang markas VOC (kini gedung museum sejarah Jakarta) para prajurit Islam ini lebih dulu singgah di Marunda untuk mengatur siasat perjuangan.

Penuturan Alwi Shahab tersebut, senada dengan penjelasan Sambo tentang lubang kecil berbentuk setengah oval yang terdapat di bagian kiri masjid Al Alam. Menurutnya, lubang tersebut digunakan sebagai pengintaian terhadap bala tentara musuh.

“Tidak hanya tentara Demak, tapi juga Si Pitung, Si Ronda, Si Jampang, Si Mirah dan lainnya pernah bersembunyi di sini dari kejaran Belanda. Mereka bisa selamat karena menurut cerita, bila bersembunyi di Masjid ini mereka tidak akan kelihatan.” ujar Alwi.

Sementara itu, melihat arsitektur Masjid Al Alam akan mengingatkan pada model Masjid Demak, namun berskala lebih mini  ukurannya 10×10 meter. Atapnya yang berbentuk joglo ditopang oleh 4 pilar bulat seperti kaki bidak catur.

Mihrab yang pas dengan ukuran badan menjorok ke dalam tembok, berada di sebelah kiri mimbar. Uniknya masjid ini berplafon setinggi dua meter dari lantai dalam.

Kemudian, di bagian kiri Masjid, dulunya merupakan kolam yang digunakan untuk mencuci kaki sebelum masuk masjid. Ini mengingatkan pada arsitektur Masjid Agung Banten Lama. Bedanya, kolam di Masjid Agung Banten Lama terletak di bagian depan halaman masjid.

Beberapa bagian masjid lainnya masih asli. Di antaranya adalah tembok di ruang utama masjid yang memiliki ketebalan sekitar 27 cm dan hiasan jendela yang terdapat di ruang pengimaman. “Itu juga asli, dalamnya terbuat dari batu giok,” lanjutnya.

Selain itu, Sambo juga menunjukkan sebuah tongkat yang terukir melingkar seperti ular. Menurutnya, tongkat itu cukup istimewa dan hanya dikeluarkan setiap hari Jum’at saat khutbah.

“Tongkat ini datangnya misterius. Tiba-tiba datang ke sini lewat air,” katanya.

Saat ini, masjid yang terletak di tepi pantai itu tidak pernah sepi. Selalu diziarahi, terutama setiap malam Jumat Kliwon dengan kegiatan rutin berupa istighotsah.

Begitu juga sumur tua yang usianya ratusan tahun tersebut berada di samping masjid sampai saat ini air masih tetap mengalir dan tidak pernah kering.

Dengan keistimewaan Masjid Al Alam, baik nilai-nilai sejarah perlawanan yang heroik dan karomah para pendirinya, dalam perkembangannya juga membawa manfaat bagi masyarakat sekitar Marunda, baik yang berhubungan dengan nilai-nilai islami maupun rizki.

Dengan ramainya para peziarah, masyarakat bisa mengambil keuntungan dengan menjual makanan di sekitar Masjid Al Alam. Apalagi saat bulan suci Ramadan.
Demikianlah keistimewaan Masjid Al Alam atau Al Auliyah Marunda. Meski dibangun hanya dalam tempo semalam, tapi manfaatnya terasa hingga ratusan tahun.

“Bangunannya mengandung budaya Jawa, Arab, dan Eropa,” ungkapnya. Gaya Jawa terlihat pada atap joglo yang bertingkat dua, gaya Arab terlihat pada ukiran kaligrafi, dan gaya Eropa terlihat pada empat tiang yang menopang atap masjid.

Saat Ramadhan tiba, banyak jemaah, dari Jakarta maupun dari daerah, sejak awal hingga akhir Ramadan. Menjelang 10 hari Idul Fitri, lebih banyak orang yang datang untuk beriktikaf.

“Setelah melakukan iktikaf biasanya mereka berziarah ke rumah Si Pitung sambil menikmati suasana pantai publik Marunda,” ungkap Aman. (adi)

Laporan: Arnes Ritonga| Jakarta Utara

• VIVAnews

Iklan

Manfaat teh ?

 REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR–Komunitas pencinta teh Kota Bogor mengungkap sejuta manfaat minum teh melalui seminar “Teh sumber kehidupan” yang dipaparkan oleh Bambang Laresolo. Bambang yang juga seorang pakar teh itu di Bogor, Jabar, Sabtu, menyatakan banyak manfaat yang diperoleh dari minuman teh, diantaranya dapat menurunkan kadar kolesterol, sebagai anti kanker, anti oksidan dan baik untuk pencernaan. “Baiknya minum teh empat gelas dalam sehari, lebih bagus tanpa gula. Banyak filosofi hidup yang ada didalam proses minum teh.” kata Bambang, dalam seminar Tea Lover Club, di Cafe Taman Koleksi Kampus IPB Baranangsiang, Jalan Pajajaran. Bambang menyatakan, budaya minum teh pertama kali ada di China pada abad 17-an. Budaya minum teh berkembang dengan adanya bangsa Portugis yang menyebarkan tumbuhan teh dibeberapa negara tropis termasuk Indonesia. Upacara minum teh berkembang, ke negeri Jepang, Inggris, Belanda hingga bangsa Indonesia yang menjadi pengekspor teh nomor lima terbesar di Dunia. Menurut Bambang, banyak filosofi hidup yang diajarkan dalam upacara minum teh. Minuman teh mengajarkan keseimbangan, respek, ketulusan dan ketenangan. “Setiap seduhan teh memberikan pemahaman tentang arti kehidupan yang harmonis, penuh keseimbangan, ada respek, ketulusan dan ketenangan. Ini ditemukan dalam tradisi minum teh di Jepang. Tapi hampir semua penikmat teh merasakannya,” kata Bambang. Bambang yang juga pemilik Kedai Teh Laresolo menegaskan, bahwa minuman teh bukanlah obat, namun teh memberikan manfaat jika diminum rutin dalam jangka waktu panjang. Teh akan memberikan manfaat bila disajikan dengan cara yang benar dan tepat. Pemilihan teh juga sangat perlu diperhatikan. Jenis teh ada tiga yakni teh hitam, teh hijau dan teh ulu. Teh yang baik berasal dari “grade” satu atau terdiri dari pucuk dan dua lebar paling atas dahan. Teh yang menggunakan daun dilebaran ke empat dan kelima kualitasnya tidak sebaik teh dari puncuk dan lembar pertama. Tips Menyeduh Teh Adapun tips menyeduh teh yang baik adalah pilih teh dengan kualitas pucuk pertama dan dilakukan penyimpanan secara baik, gunakan air natural atau kemasan. “Kalau air dari PDAM biasanya tercampur dengan kaporit, akan merusak kualitas teh. Sebaiknya air yang digunakan adalah air yang ada disekitar tanaman teh, tapi tidak mungkin jauh-jauh kesana. Jadi gunakan air kemasan saja,” kata Bambang. Selanjutnya tentukan suhu air dan tempat penyeduhan sesuai dengan jenis teh yang diseduh. Lanjutkan dengan menentukan takaran teh dan jumlah air panas, lalu saring teh sesuai dengan jenis teh dan kualitas teh seduhan terbaik akan menemani pencinta minuman teh, kata Bambang. Dialog para pencita teh Kota Bogor, diikuti sekitar 20 orang. Mereka pada umunya menyukai minuman teh karena khasiat yang terdapat didalam teh tersebut. Suasana dialog sangat harmonis dengan penyajian teh oleh pihak panitia dalam bentuk poci. Didalam dialog para peserta memanfaatkan kesempatan untuk bertanya seputar khasiat dan tradisi meminum teh. Acara belangsung dari pukul 15:30 WIB hingga pukul 19:00 WIB, ditutup dengan hujan yang mengguyur kota Bogor.