Monthly Archives: Agustus 2011

Bentuk karangan:

Karangan dapat digolongkan menjadi :

1. Narasi: narasi atau cerita ialah karangan yang menyajikan serangkaian peristiwa yang biasanya disusun menurut urutan waktu. Yang termasuk narasi ialah: novel, cerpen, roman, kisah perjalanan, biografi, otobiografi.

2. Deskripsi: ialah karangan yang menggambarkan tau melukiskan sesuatu seakan-akan pembaca melihat, mendengar, merasakan atau mengalaminya sendiri.

3. Eksposisi: ialah karangan yang memaparkan, memberi keterangan, menjelaskan, memberi informasi sejelas-jelasnya mengenai suatu hal.

4. Persuasi: ialah karangan yang tujuannya untuk membujuk, mempengaruhi pembaca agar mau mengikuti kemauan atau ide penulis disertai alasan, bukti dan contoh konkret.

5. Argumentasi: ialah karangan yang isinya bertujuan meyakinkan pembaca atau mempengaruhi pembaca terhadap suatu permasalahan dengan mengemukakan alasan , bukti dan contoh yang nyata.

Langkah-langkah menyusun karangan:

1. Menentukan tema karangan

2. Mengumpulkan ide atau bahan karangan

3. Menyusun kerangka karangan

4. Mengembangkan kerangka karangan menjadi karangan yang sebenarnya

5. Memberi nama karangan / judul

Iklan

Kamus Istilah:

arbiter      : orang yang disepakati oleh dua pihak yang bersengketa untuk membe-

rikan keputusan yang akan ditaati oleh kedua belah pihat

berselisih: berbeda, berlainan pendapat

kredit        : cara menjual barang dengan pembayaran secara tidak tunai/diangsur

pengadilan: majelis yang mengadili perkara

Perjanjian : persetujuan (tulis atau dengan lisan) yang dibuat oleh dua pihak atau lebih, masing-masing bersepakat akan mentaati apa yang tersebut dalam persetujuan

sengketa : sesuatu yang menyebabkan perbedaan pendapat, pertengkaram,perbantahan

engkol : alat pemutar untuk menghidupkan mesin mobil

nirkabel : tanpa menggunakan kabel

tender    : tawaran untuk mengajukan harga, memborong pekerjaan, atau menyediakan barang

 

Menyimpulkan Informasi dengan Teknik Induktif dan Deduktif

Teknik membuat simpulan ada dua macam cara, yaitu:

1. Induktif: yaitu teknik membuat sipulan induktif disusun mulai dari pengumpulan data/fakta dan berakhir pada simpulan yang merupakan ciri umum dari data/fakta yang diamati.

2. Deduktif: yaitu teknik membuat simpulan yang bertolak dari suatu kesimpulan umum, kemudian dijabarkan contoh-contoh yang mengandung ciri-ciri umum itu.

Contoh simpulan Induktif:

Pelaksanaan program Keluarga Berencana di Kecamatan Cilincing bermacam-macam. Ada yang melaksanakan KB dengan melakukan pantang berkala,  vasektomi, pil, spiral (IUD) dan kondom. Penduduk daerah keacamatan Cilincing telah lama melaksanakan Program KB. Banyak di antaranya yang sudah ber-KB lebih dari sepuluh tahun (KB Lestari). Presentase jumlah peserta KB seluruhnya ada 75%. Itulah sebabnya Kecamatan Cilincing dinyatakan sebgai juara I Program KB tingkat Kota Madya. Hadiahnya berupa TV LCD dan DVD.

Contoh simpulan deduktif:

Baru-baru ini di kecamatan Cilincing mendapat hadiah dari Bapak Walikota berupa sebuah TV. Hadiah ini diberikan atas keberhasilan penduduk kecamatan Cilincing dalam melaksanakan program KB yang telah berlangsung lama. Dalam melaksanakan program KB ini ada bermacam-macam cara yabg ditempuh oleh penduduk pasangan usia subur di kecamatan tersebut. Sebagian besar menggunakan alat kontrasepsi yang disebut kondom, spiral (IUD), pil, vasektomi dan ada pula yang melaksanakan pantang berkala.

Langkah-langkah membuat simpulan induktif:

1. Pengumpulan fakta

2. Pembuatan simpulan berdasarkan ciri umum.

 

Menulis Laporan:

I. Sistematika laporan:

1. Judul

2. Kata pengantar

3. Daftar isi

4. Pendahuluan

5. Uraian

Fisik Laporan

Laporan yang berupa buku, halaman demi halaman disusun sebagai berikut:

1. Halaman Judul

Isinya meliputi: a. judul laporan

b. nama penyusun

c. kelas, nama dan tempat sekolah

d. tahun penyusunan

2. Prakata / kata pengantar

3. daftar isi

4. Daftar tabel, organigram, bagan , grafik, gambar

5. Pendahuluan, biasanya merupakan Bab I

6. Batang tubuh laporan, yang terdiri dari beberapa bab, tiap bab dilengkapi ringkasan

7. Resume / kesimpulan

8. Lampiran-lampiran

9. Daftar Pustaka

6. Kesimpulan/resume

7. Penutup

8. Lampiran

9. Daftar pustaka

II. Bagian-bagian laporan:

1. Pendahuluan

2. Batang tubuh laporan

3. Kesimpulan

4. Lampiran-lampiran

5. Daftar pustaka/bibliografi

Tiga(3) faktor pengurang nilai puasa:


Republika, 29 Agustus 2010

 

Oleh: KH Didin Hafidhuddin

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW menyatakan, banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak menghasilkan apa pun dari puasanya, selain lapar dan haus. (HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).

Hadis ini mengisyaratkan secara tegas bahwa hakikat shaum (puasa) itu, sesungguhnya, bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga. Akan tetapi, puasa adalah menahan diri dari ucapan dan perbuatan kotor yang merusak dan tidak bermanfaat. Termasuk juga kemampuan untuk mengendalikan diri terhadap cercaan dan makian orang lain. Itulah sebagian dari pesan Rasulullah SAW terhadap kaum Muslimin yang ingin puasanya diterima Allah SWT.

Pada umumnya, orang yang berpuasa mampu menahan diri dari makan dan minum, dari terbit fajar sampai terbenam matahari, sehingga puasanya sah secara hukum syariah. Akan tetapi, banyak yang tidak mampu (mungkin juga kita) mengendalikan diri dari hal-hal yang mereduksi, bahkan merusak pahala puasa yang kita lakukan.

Pertama, ghibah, menyebarkan keburukan orang lain, tanpa bermaksud untuk memperbaikinya. Hanya agar orang lain tahu bahwa seseorang itu memiliki aib dan keburukan yang disebarkan di televisi dan ditulis dalam surat kabar dan majalah, lalu semua orang mengetahuinya. Penyebar keburukan orang lain pahalanya akan mereduksi sekalipun ia melaksanakan puasa, bahkan mungkin hilang akibat perbuatan ghibah yang dilakukannya.

Kedua, memiliki pikiran-pikiran buruk dan jahat, dan berusaha melakukannya, seperti ingin memanfaatkan jabatan dan kedudukan untuk memperkaya diri, terus-menerus melakukan korupsi, mengurangi takaran dan timbangan, mempersulit orang lain, dan melakukan suap-menyuap. Jika hal itu semua dilakukan, perbuatan tersebut pun dapat mereduksi pahala puasa, bahkan juga dapat menghilangkan pahala serta nilai-nilai puasa itu sendiri.

Ketiga, sama sekali tidak memilik empati dan simpati terhadap penderitaan orang lain yang sedang mengalami kelaparan atau penderitaan, miskin, dan tidak memiliki apa-apa. Orang yang berpuasa, akan tetapi tetap berlaku kikir dan bakhil, nilai puasanya akan direduksi atau dihilangkan oleh Allah SWT.

Oleh karena itu, marilah kita berpuasa dengan benar, baik secara lahiriah (tidak makan dan minum) maupun memuasakan hati dan pikiran kita dari hal-hal yang buruk. Latihlah pikiran dan hati kita untuk selalu lurus dan jernih, disertai dengan kepekaan sosial yang semakin tinggi. Berusahalah membantu orang-orang yang sedang mengalami kesulitan hidup. Wallahu a’lam bish-shawab.[dikopi dri Republika, 29 Agustus 2010]

 

Unsur intrinsik drama:

Drama adalah: karya sastra yang menggambarkan kehidupan dan watak manusia melalui gerak dan dialog di atas pentas. Pertunjukan drama adalah gabungan dari pelbagai cabang kesenian meliputi seni sastra untuk penulisan lakonnya, seni peran, seni musik, seni tari, seni  dekorasi, seni tata rias, seni tata busana dan seni tata cahaya.

 

Unsur intrinsik drama meliputi:

1. Tema : masalah atau persoalan yang dikemukakan

2. Plot: alur cerita, yang meliputi:

a. Pengenalan: alur cerita dimulai dengan paparan untuk memperkenalkan

terjadinya insiden permulaan.

b. Penggawatan: setelah insiden permulaan konflik-konflik semakin gawat,

makin ruwet.

c. Penanjakan laku: setelah makin ruwet sampailah pada pada klimaks atau

puncak ketegangan. Pada bagian inilah yang dianggap penonton drama

bagian yang paling seru.

d. Peleraian: ketegangan menurun karena ada jalan keluar masalah.

e. Penyelesaian seluruh konflik, cerita TAMAT.

3. Karakterisasi: Untuk mengembangkan konflik dalam cerita, tokoh protagonis dan tokoh antagonis punya karakter dan watak. Karakter tiap tokoh ditampilkan lewat dialog dan gerak.

4. Dialog: melalui dialog kita bisa melihat watak watak para tokoh dalam lakon drama.